Traveler Tanpa Label ‘Traveler’

embah dan babo

Meski tidak pernah menyebut diri sebagai traveler, Pak Yusri dan Ibu Bayyinah, mertua saya adalah dua orang yang kerap kali melakukan perjalanan. Bahkan bisa dibilang hampir tiap bulan mereka traveling, backpacker-an atau apapun sebutan yang saat ini sedang nge-trend di kalangan netizen sejagad raya. Tapi jangan salah, bukan berwisata atau bepergian ke tempat-tempat yang indah kemudian bisa difoto untuk dipamerkan ke sosial media. Tujuan utama mereka traveling cukup sederhana, yaitu silaturahmi. Maklumlah, keluarga besar istri saya hampir ada di setiap titik pulau Jawa.

Istri saya adalah anak yang nomer empat, dan saat ini tinggal bersama saya di Surabaya. Kalau logikanya nih, harusnya saya dan istri yang lebih intens menjenguk mereka di bekasi. Tapi kenyataannya lain. Justru merekalah yang lebih sering datang ke Surabaya. Dan seringnya, kalau ke sini, Surabaya bukanlah satu-satunya tempat yang mereka singgahi. Terkadang mampir dulu ke Solo, atau ke Magelang. Kalau sudah di Surabaya, biasanya akan pergi lagi ke Nganjuk, Kediri, Tulungagung atau beberapa tempat dimana saudara dari keluarga besar berada. Dulu waktu kakak ipar saya masih di Bojonegoro, mereka juga menyempatkan waktu kesana. Kalau lagi liburan, biasanya saya dan istri ikut sambang keluarga yang nggak jauh dari Surabaya. Atau malah kami ajak pergi ke tempat wisata, seperti di kota Batu beberapa waktu lalu.

Nggak cuma di pulau Jawa, kebetulan papa mertua terlahir di Palembang, Sumatera Selatan. Dan di sana juga masih banyak saudara. Kebetulan lagi, mas Ebot, kakak ipar saya menikah dengan seorang gadis asal Lampung, dan menikah di sana. Jadi, pulau Sumatera juga sudah pernah disinggahi oleh mereka.

Nggak cuma Jawa dan Sumatera. Mas Kiki, kakak pertama istri saya dulu merantau di Sulawesi dan menikah di sana. Karena keadaan ekonomi di sana kurang baik, jadi sampai punya anak tiga mas Kiki dan keluarga tidak pernah ke pulau Jawa. Otomatis mertua saya pun kangen setengah mati, masa punya cucu tiga cuman bisa ngeihat lewat foto. Akhirnya beberapa tahun lalu, mertua saya dengan modal yang cukup nekat berangkat naik kapal feri menuju Sulawesi. Alhamdulillah mereka pun bisa kembali dengan selamat.

Masih kurang? Kalau Indonesia sudah cukup mainstream, mertua saya pernah menjejakkan kakinya di luar negeri. Jadi beberapa tahun lalu, istri saya dan kakaknya mendapat rejeki yang lumayan. Memang kebetulan istri saya dengan dua orang kakaknya bekerja di bawah bos yang sama. Istri saya dan kakaknya patungan untuk memberangkatkan umroh. Alhamdulillah, datang ke tanah suci pun sudah pernah.

Dari beberapa kali saya mudik ke Bekasi, justru kami malah jarang di rumah. Saya pernah diajak sambang keluarga di Jakarta, Bogor ataupun di Bandung. kalau urusan tamasya ke tempat wisata, saya pernah diajak jalan-jalan ke Tangkuban Parahu, maupun ke Kawah Putih di Ciwidey. Kalau ke Jakarta saya pernah diajak ke tugu Monas,  pernah juga singgah ke Grand Indonesia waktu kopdar sama temen-temen Notif! Magz.

Jadi kalau urusan berpindah dari stasiun ke stasiun, terminal ke terminal, sampai bandara ke bandara, mertua saya jangan ditanya lagi. Sudah hafal! Bahkan kalau mau bepergian naik bis ini atau kereta itu, sudah bukan menjadi kekuatiran lagi. Mereka seperti sudah benar-benar hapal jalan.

Pagi ini saya baru mengantar mereka ke stasiun kereta api untuk meneruskan perjalanan ke Kediri, kemudian besok baru bertolak ke Bekasi. Semoga selalu diberikan kesehatan, dan keamanan sampai kembali ke rumah. Ditunggu lagi kedatangannya Babo sama Embah! 🙂

You may also like...

6 comments

  1. The real traveler. Pasti banyak banget nih cerita, pengalaman. Yang bikin gue respect traveler untuk silaturahmi.

    Ajarin nulis kah bang. Siapa tau jadi blogger traveler

  2. haha keren keren, gue aja belum pernah, apalagi ke sulawesi. mungkin seharusnya anak yang lebih sering mengunjugi orang tua, bukan apa apa, namanya aja udah tua, fisiknya untuk pergi kesana kemari udah nggak seperti dulu.

    Jadi butuh istirahat lebih banyak dan gue juga mau naikin haji orang tua insyaallah. amin.

  3. Seru ya mereka, udah lumayan tua padahal tapi masih bugar dan suka jalan-jalan. Biasanya kalau udah seumuran mereka itu bawaannya males kemana-mana, maunya disamperin sama anaknya mulu..

    Aku salut sama mereka, udah gitu mereka jalan-jalan bukan anak kekinian yang ngerusak alam. Justeru mereka mengeratkan tali persaudaraan.

  4. wah wah wah, jempol bro buat mertuanya. nggak usah pakai label apapun untuk menunjukkan kalau mereka emang traveller sejati, walaupun masih dalam jarak yang nggak jauh-jauh amat. hafal bis ke sama kemari itu bukti nyatanya, lumayan tuh… buat melatih daya ingat.

  5. DEMI APA OM EL???

    Ya ampun, beruntung banget ya mertuanya Omel bisa traveling hampir di seluruh Indonesia. Keren bangetttt beneraaan. Btw boleh tau nggak umurnya berapa? Masih kuat juga ya, alhamdulillah. Itu kalo pergi-pergian berdua doang? Apa ada anak atau cucu yang ikut gitu? Kalo beneran berdua doang, salut deh!

    Ah semoga aku juga nanti bisa kayak gitu. Nggak perlu pake label traveler, tapi bisa menyambangi tempat-tempat di luar dari zona nyamanku sekarang 😀

    Elangg: Yang pasti umurnya sih di atas 50an, dan mereka bepergian HANYA BERDUA kemana-mana. Keren kan!!! 😀

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *