Touring Bromo Pas Liburan, Maceeeet!

Tanggal 15 Agustus kemarin saya mengikuti touring yang diadakan oleh DKC (Doyan Kluthusan Crew), dan tujuan kali ini adalah ke Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. Rencananya rombongan berangkat jam sepuluh malam, tapi yah apa daya, ada saja beberapa anggota yang datang terlambat sehingga jam sebelas malam baru bisa berangkat. Saya bersama istri naik tunggangan andalan touring selama bertahun-tahun Yamaha Jupiter MX. Kalau ada yang bertanya anak saya dikemanain, hehehe kali ini dititipin ke embahnya dulu. Kasihan kalau diajak, karena selain berangkatnya malam, disana bakalan rame banget (karena kebetulan kemarin pas liburan hari kemerdekaan RI), dan yang pasti Bromo bakalan dingin banget.

Awalnya perjalanan lancar jaya, sampai di Pasuruan ada salah satu anggota yang ban motornya bocor terkena paku, sehingga saat itu terpaksa harus ganti ban dalam. Untung sih, ada tambal ban, jadinya motor yang bannya bocor langsung bisa teratasi. Saat itu di Pasuruan jam menunjukkan pukul 00.04.

Setelah berhenti lumayan lama di tambal ban, kami pun melanjutan perjalanan kembali. Buat yang belum pernah ke Bromo, salah satu jalur  yang bisa dilewati adalah lewat Pasuruan. Dari Surabaya jalan saja ke arah Pasuruan kota, kemudian lurus terus ke arah timur sampai ada penunjuk jalan bertuliskan Bromo, belok ke kanan (selatan), ikuti saja jalannya. Ada satu perempatan sebelum memasuki kawasan wisata Bromo, kalau belok ke kanan menuju ke air terjun Madakaripura. Karena saat itu rombongan berangkat malam hari untuk mengejar sunrise di Penanjakan, jadinya kami langsung bablas, ke Madakaripura-nya besok sekalian perjalanan balik.

Beberapa kilometer dari perempatan tersebut ada pom bensin, kami berhenti sebentar di sana buat istirahat dan mengisi bahan bakar. Buat motor yang bertangki kecil seperti motor bebek atau matic, mengisi bensin di sini wajib hukumnya daripada nanti di atas kerepotan karena nggak ada yang jualan bensin. Perjuangan masih belum dimulai, karena jalur yang ‘katanya’ ekstrim masih belum terlewati.

Kelar istirahat sebentar dan mengisi bensin, perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Kali ini jalur mulai agak serem, selain tanjakan yang lumayan curam, kondisi jalanan gelap banget, kalau salah belok bisa masuk jurang. Memang sih dari segi keamanan seperti pagar pembatas jalan-jurang tidak ada, jadi kalau melewati daerah sini apalagi pas malam hari, harus super ekstra hati-hati! Karena jalanan yang cukup curam, kami pun terpaksa harus sedikit ngebut, karena kalau jalan pelan-pelan motor bakalan ngoyo banget. Di sinilah kemudian terjadi insiden di rombongan kami.

Saya dan beberapa motor yang posisinya di depan sudah sampai di sebuah pertigaan, ada balai desa nya, lupa nama daerahnya. (maapkan saya!) Kami kemudian berhenti di balai desa untuk menunggu rombongan yang lain. Setelah beberapa lama, rombongan masih belum juga kelihatan. Sementara rombongan lain dan beberapa mobil sudah beberapa kali lewat. Kayaknya ada yang nggak beres nih, benar saja setelah di telepon, ternyata rombongan di belakang mengalami kecelakaan. Ada yang terpeleset jatuh dan mengakibatkan tabrakan beruntun. Untung saja nggak seberapa parah, setelah beberapa saat rombongan yang di belakang pun melanjutkan perjalanan, sementara kami masih menunggu di balai desa.

Lumayan lama kami menunggu, ternyata mereka masih belum juga muncul. Sementara sinyal handphone sudah mulai hilang, kami sudah nggak bisa menghubungi mereka. Hanya saja saya sempat melihat beberapa orang dari rombongan kami lewat, mungkin mereka sudah bablas naik. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan dengan harapan bisa ketemu rombongan yang lain di depan. Tapi naas, ternyata di atas maceeeeeeeeeet bangget! Kami yang hanya sisa beberapa orang pun kemudian lebih ekstra mengawasi satu sama lain, jangan sampai terpisah lagi karena kondisi jalan yang super duper macet. Dan yang lebih bikin tegang lagi, selain macet, jalanan di sini itu curam banget. Motor sudah dalam posisi gigi satu saja masih ngoyo banget, sampai sempat istri saya harus turun sebentar biar nggak berat. Akhirnya kami sampai di satu pos, dimana kami diminta untuk membayar tiket masuk sebesar lima ribu Rupiah per orang, dan lima ribu lagi untuk satu motor. Kami masih mencoba untuk menghubungi yang lain, tapi apa daya sinyal yang menghalangi jua. Akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan jalan ke Penanjakan, sambil menunggu pagi, besok saja kita cari rombongan lainnya.

Sampai di Penanjakan, kondisi jalan tidak memungkinkan untuk naik menggunakan motor. Kami sempat mencoba naik, tapi batal dan kembali turun karena ada salah satu motor bukan dari rombongan kami mencoba naik dan terguling sampai ke bawah. Motor pun kami parkir di bawah dan kami melanjutkan berjalan kaki, capek sumpah!

Sebenarnya untuk naik ke Penanjakan1, bisa menggunakan jasa angkutan kuda, tapi harus siap merogoh kocek lumayan dalam. Karena saat itu tarif naik Rp 100ribu per orang, padahal biasanya pas hari biasa (bukan liburan) cuman tiga puluh ribuan. Yaah, akhirnya kita coba jalan kaki sih.

Belum sampai di atas, jam sudah menunjukkan setengah lima pagi, kami harus sholat Shubuh. FYI, di sini nggak ada mushola. Saya coba tanya ke bapak-bapak penjaga toilet, beliau menyarankan sholat di belakang toilet. What, yang bener saja pak. Masa sholat di belakang toilet? Saya pun kemudian menanyakan arah barat dimana, dan kemudian kami sholat di pasir beralaskan matras.

Beberapa dari kami ada yang naik, dan ada yang kembali turun. Saya dengan napas tua ini mengajak istri menikmati sunrise di sini saja, walaupun nggak kelihatan mataharinya. Tapi lumayan bisa melihat biasan sinar sunrise dengan tubuh yang menggigil.

bromo, sunrise, penanjakan
Menjelang matahari terbit

Matahari perlahan naik, Bromo mulai menampakkan wujudnya. Subhanallah, kereen! Melihat pemandangan Gunung Bromo langsung, padahal selama ini baru melihat foto dan videonya saja.

bromo, penanjakan, traveling, travel
Ini Bromo, men!

 

bromo, penanjakan, travel
Saya dan istri. Narsis itu penting banget!

Setelah beberapa lama kami menikmati pemandangan Bromo, plus foto-foto tentunya, saya mencoba menghubungi teman dari rombongan yang terpisah. Akhirnya nyambung juga, ternyata mereka sudah ada di bawah dan sedang menuju air terjun Madakaripura.

Sebenarnya planning kami sebelumnya adalah setelah melihat sunrise, mampir ke lautan pasir baru ke Madakaripura. Tapi karena kondisi yang nggak memungkinkan, rame banget, ditambah lagi rombongan kami terpisah, akhirnya kami langsung ke Madakaripura.

Perjalanan pun kami lanjutkan, dengan harapan bertemu kembali dengan rombongan yang terpisah. Lagi-lagi di jalan kami kembali terhambat. Maceeeeeet banget, lumayan lama kami terhenti di jalanan. Sampai akhirnya kami turun dan jalanan kembali lancar jaya. Perlu banget diingat, kalau mau motoran ke Bromo, kondisi motor dan driver harus benar-benar fit. Karena selain tanjakan dan turunan yang curam banget, kiri-kanan jurang yang nggak ada pengamannya. Dari cerita penduduk setempat yang sempat ngobrol sama saya, sering banget di sini terjadi kecelakaan jatuh ke jurang, baik motor, mobil maupun bis. Malahan beberapa hari lalu ada minibus yang jatuh ke jurang dan menewaskan penumpangnya. So, jangan pernah merasa sombong, jangan menantang alam!

Akhirnya tibalah kami di pom bensin tempat pemberhentian tadi malam, kali ini teman kami dari rombongan yang terpisah benar-benar nggak bisa dihubungi. Lumayan lama kami istirahat sambil makan-makan gorengan dan snack, sampai hampir satu jam teman kami masih belum bisa dihubungi. Sepertinya mereka di lokasi yang nggak ada sinyal. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke air terjun Madakaripura, semoga di sana nanti bisa bertemu dengan mereka.

Ada apa di Madakaripura? Apa saja yang kami lakukan di sana? Dan, apakah kami kemudian bertemu kembali dengan rombongan yang terpisah? Nantikan di postingan saya berikutnya! (Bersambung)

You may also like...

4 comments

  1. Jadi kangen sepeda motoran ke Bromo lagi mas 😀 Memang kalau pas liburan, bromo ini pasti jadi incaran buat berlibur semua orang deh. Terutama yang dari sekitarnya.

  2. bolak balik ke Bromo tapi saya belum pernah nih mampir ke air terjun tempat bertapanya Gajah Mada ya konon katanya 🙂
    dan Bromo itu selalu memukau, meskipun bermacet2an tetap worth it 🙂

    Salam kenal juga ya

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *