Tips Berjualan Ketika Kompetitor Memasang Harga Lebih Rendah Dari Kita

tips berjualan

Barangkali ada pedagang yang merasa resah karena ternyata kompetitor dalam bisnisnya memasang harga yang lebih rendah dari harga kita, sementara barang dan kualitasnya sama. Tidak bisa dipungkiri, persaingan bisnis saat ini memaksa kita untuk memutar otak lebih cepat, agar tidak kalah saing dengan kompetitor-kompetitor yang semakin hari semakin banyak bermunculan. Salah satu strategi yang sering terjadi dalam persaingan bisnis adalah perang harga. Yap, siapa yang berani pasang harga paling rendah, atau memberi diskon dan bonus paling banyak, dialah yang biasanya mampu menggaet pasar lebih cepat.

Namun apakah harga yang murah adalah satu-satunya acuan, agar produk yang dijual cepat laku?

Tapi tidak perlu menyerah terlebih dahulu, karena ternyata banyak kok penjual besar yang mampu bertahan, bahkan mampu bersaing dengan banyak kompetitor walaupun tanpa mengandalkan harga yang murah.

Beberapa hal di bawah ini, bisa menjadikan acuan untuk tetap berjualan, sekalipun tidak harus dengan banting harga.

Pelayanan yang Baik

Kesuksesan seorang pebisnis sebenarnya adalah bukan dari bagaimana dia bisa menggaet konsumen, melainkan bagaimana dia bisa menjaga hubungan baik dengan konsumen tersebut. Sehingga konsumen kita tidak ragu untuk repeat order. Bahkan kalau konsumen merasa sangat puas pun, tanpa perlu kita minta atau dibayar, mereka akan dengan senang hati mempromosikan produk kita ke relasinya. Dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya,  hal ini justru kan menjadi ‘senjata’ paling ampuh daripada sekadar memberikan diskon di peak season atau waktu-waktu tertentu. Karena diskon/bonus sifatnya tidak kekal, menjaga hubungan baik dengan itulah yang membuat usaha kita akan bertahan lebih lama.

Meminta Feedback dan Selalu Terbuka Menerima Kritik

Kita tidak akan tahu bagaimana impact produk kita terhadap konsumen, apakah customer merasa puas atau justru merasa dirugikan. Langkah paling baik adalah dengan meminta feedback atau testimoni, dan selalu terbuka untuk menerima kritik maupun saran. Mungkin di semester pertama kita mampu menjual produk hingga ribuan unit, kemudian kita merasa produk kita laku di pasaran dan kemudian tidak melakukan perubahan karena kita tidak tahu feedback dari konsumen apakah positif atau negatif. Kalau memang positif, mungkin di semester berikutnya penjualan akan tetap stabil atau bahkan mengalami peningkatan. tapi bagaimana kalau ternyata responnya negatif? Tentu bisa jadi di semester berikutnya, penjualan akan merosot, dan semakin lama semakin menurun hingga di titik nol. Otomatis usaha kita akan gulung tikar.

Bagaimana jika ketika kita di titik nol, kemudian baru mengubah standart produksi menjadi lebih baik? Maaf anda sudah terlambat!

Ketika masyarakat sudah mengecap produk kita adalah produk yang kurang berkualitas, akan butuh waktu dan upaya yang sangat berdarah-darah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat agar mau kembali membeli produk kita. Apalagi kalau kejelekan produk kita kemudian menjadi viral di media sosial. Bahkan mereka yang belum tahu produk kita pun akan ikut-ikutan mengecap jelek dan nggak akan mau membeli produk yang kita jual. Darr…

HABIS SUDAH!!!

Satu-satunya langkah yang bisa dilakukan hanyalah dengan melakukan rebranding, dan memulai semua dari nol.

Itulah kenapa feedback atau testimoni sangat penting bagi seorang pengusaha, agar dapat memantau perkembangan usaha kita. Dan dapat sesegera mungkin memperbaiki apabila ada hal yang kurang baik.

Semoga sedikit tips di atas dapat bermanfaat, dan usaha yang akan kita jalankan mampu membawa kita kepada kesuksesan! Amin. 🙂

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *