Serba-Serbi Perpanjangan SIM di Satpas Colombo, Surabaya

Entah mimpi apa saya kemarin malam, tiba-tiba saya terbangun dari tidur langsung berlari keluar kamar mencari dompet. Sambil menengok SIM C, saya kemudian berucap lirih. “Astaghfirullah,” Desah saya diikuti adzan Shubuh yang mulai bersahutan di mushola-mushola sekitar rumah.

Ternyata eh ternyata, saya baru ingat kalau SIM C saya sudah habis masa berlakunya dari sebulan yang lalu. Padahal baru minggu kemarin saya ke Kediri bareng anak dan istri naik motor, beruntung kemarin di jalan nggak ada operasi pemeriksaan SIM.

Biasanya saya mengurus perpanjangan SIM di SATPAS keliling, karena menurut info yang pernah saya tahu, kalau telat perpanjangan itu hanya bisa diurus di Colombo, ya sudahlah akhirnya pagi-pagi saya pun berangkat ke SATPAS Colombo. FYI, buat yang belum tahu, SATPAS Colombo beralamat di jalan Ikan Kerapu no. 2-4, Surabaya. Kalau dari Tugu Pahlawan, mengikuti jalan ke arah Tanjung Perak. Akan ada penunjuk jalan yang bisa dilihat di beberapa titik.

Sebelum memasuki area Satlantas Polrestabes Surabaya (Colombo), di sepanjang jalan disambut oleh ‘calo-calo’ yang menawarkan jasa pengurusan SIM tinggal foto. Artinya kalau kita memakai jasa mereka, kita tinggal duduk manis menunggu giliran foto kemudian SIM langsung jadi. Tentunya dengan biaya tertentu, entah berapa saya nggak nanya ke mereka. Tapi, di SATPAS Colombo juga bertebaran spanduk-spanduk yang bertuliskan,

“Tanpa Calo, Anda Selangkah Lebih Maju”

Kalau boleh jujur, dulu saya beberapa kali menggunakan jasa calo untuk mengurus SIM maupun STNK. Tapi setelah beberapa kali mencoba mengurus sendiri, saya sekarang lebih pede mengurus tanpa jasa calo. Ternyata mengurus surat-surat kendaraan itu mudah kok, asalkan mau bertanya pada orang yang tepat.

Terus siapa dong yang dimaksud dengan ‘orang yang tepat’ itu?

Jawabannya ya petugas lah. Kalau bertanya pada calo pasti ujung-ujungnya ditawarin jasa dan biaya akan membengkak. Kalau dulu banyak oknum petugas yang merangkap jadi calo dengan menawarkan ‘jalan pintas’ untuk mengurus surat-surat kendaraan, sekarang bisa dibilang hampir semuanya bersih. Saat pertama kali datang ke SATPAS Colombo, saya menolak beberapa tawaran ‘jasa mengurus SIM cepat’ dari beberapa orang. Tolaklah dengan baik-baik sambil tersenyum, mereka nggak akan maksa kok. Kemudian saya langsung mencari loket perpanjangan SIM, untuk mencari loket perpanjangan SIM di Kolombo nggak sulit, ada penunjuk arahnya. Tepatnya sih di sebelah utara mushola. Saya langsung bertanya kepada petugas yang ada di sana, dan petugas tersebut kemudian menjelaskan prosedur mengurus perpanjangan SIM dengan sangat ramah.

cara mengurus sim kolombo surabaya
Ayo mengurus SIM tanpa calo!

Mumpung masih anget, sekalian deh saya tulis di sini beberapa step prosedur mengurus perpanjangan SIM di Kolombo, Surabaya.

  1. Siapkan KTP asli dan fotokopi satu lembar, kemudian SIM asli yang mau diperpanjang beserta fotokopiannya satu lembar.
  2. Melakukan tes kesehatan. Kalau dulu tes kesehatan di Kolombo dilakukan di dalam, nggak tahu kenapa sekarang diarahkan ke dokter umum di seberang jalan kantor SATLANTAS. Jadi untuk tes kesehatan, saya harus keluar lokasi dulu, di seberang jalan ada dokter umum yang ditunjuk. Tinggal menyerahkan fotokopi KTP dan SIM, membayar biaya pemeriksaan, kemudian mendapat berkas-berkas kesehatan. Di sini jujur saya sedikit kecewa, karena saya nggak benar-benar diperiksa oleh dokter. Saya membayar biaya sebesar Rp. 55ribu, kemudian mendapatkan berkas-berkas syarat perpanjangan SIM, sudah. Padahal saya berharap paling tidak diperiksa tekanan darah atau cek mata kek. Ya sudahlah, akhinya kemudian saya kembali masuk ke Colombo.
  3. Setelah melakukan tes kesehatan (atau lebih tepatnya membeli berkas tes kesehatan), saya kembali ke loket perpanjangan SIM untuk menyerahkan berkas-berkas tersebut. Kemudian saya diberi map beserta formulir perpanjangan SIM untuk diisi, dan membayar biaya perpanjangan sebesar Rp. 75ribu di kantor BRI.
  4. Lokasi kantor BRI di Kolombo berada tepat di samping loket perpanjangan SIM. Di situ juga ada meja besar tempat untuk mengisi formulir perpanjangan SIM. Mungkin akan ada beberapa calo yang menawarkan jasa mengisi formulir, biasanya biayanya sih nggak mahal. Paling cuman 5ribu untuk ganti jasa mengisi formulir. Terserah kalian mau menggunakan jasa mereka atau tidak, karena menurut saya jasa seperti itu masih terbilang sah-sah saja. Karena ternyata masih banyak orang yang bingung cara mengisi formulir. kalau kalian nggak mau menggunakan jasa mereka, ada kok contoh cara mengisi formulir yang disediakan di meja besar tersebut.
  5. Setelah pembayaran dan formulir diisi dengan lengkap, kembali ke loket perpanjangan SIM. Menyerahkan berkas-berkas tersebut, kemudian duduk di ruang tunggu dan menunggu dipanggil untuk foto, tanda tangan dan cap sidik jari.
  6. Kalau sudah dipanggil, masuk ke ruang foto sambil membawa berkas-berkas tadi, mengumpulkan berkas-berkas di tempat yang disediakan dan tunggu kembali untuk giliran foto. Beberapa hal yang dilakukan ketika dipanggil untuk foto adalah: Mengecek kembali data-data diri, mungkin ada yang kurang pas atau perlu diubah. Cap sidik sepuluh jari (empat jari kanan, empat jari kiri, kedua jempo dan terakhir jempol kanan saja). Pengambilan foto (tidak boleh menggunakan penutup kepala kecuali jilbab, tidak boleh menggunakan kacamata, harus menggunakan baju berkerah/jaket). Dan yang terakhir tanda tangan. Setelah semua step pengambilan foto selesai, berkas-berkas akan dikembalikan ke kita kembali, dan mengumpulkannya di loket yang telah ditunjuk.
  7. Selesai, tinggal menunggu dipanggil untuk menerima SIM baru dan mengisi data diri.

So far mengurus perpanjangan SIM di Kolombo nggak ribet kok. Gampang banget malahan. Dan biaya yang dikeluarkan pun nggak sebanyak kalau kita menggunakan jasa calo. Tinggal bagaimana kita mau usaha dan bertanya pada orang yang tepat saja.

Selesai mendapat SIM baru, nggak ada salahnya diberi lapisan pelindung agar SIM nggak mudah pudar tulisannya. Kalau mau jasa laminasi/memasang lapisan pelindung SIM bisa menghubungi mas Robert di loket keluar parkiran motor Kolombo. Biasanya dia mangkal di situ, dan banyak kok yang menggunakan jasa memasang lapisan pelindung dari dia.

Kok kenal sama mas Robert?

Hahaha, kebetulan dia masih saudara sama tetangga saya.

Waktu mengurus perpanjangan SIM kemarin, ada sedikit kendala sih di Colombo. Yaitu sistem mereka sempat error waktu pertama kali saya datang. Jadi dari pagi foto SIM sempat ditunda beberapa jam. Dan baru bisa kembali normal sekitar jam 11-an. *Kira-kira jam segitu deh, soalnya saya nggak memperhatikan jam.

Akhirnya setelah trouble di SATPAS Colombo sudah kembali normal, kami pun kembali dipanggil untuk mengantri foto. Saya yang datang dari jam 09.45 baru dapat giliran foto sekitar jam 12.45. hosh. Begitu juga bapak-bapak yang sempat mengobrol sama saya, beliau datang jam setengah sepuluh, baru kelar jam satu siang.

Selama menunggu antrian foto, ada beberapa orang yang saya temukan di sana. Mereka adalah:

1. Orang Keturunan Tionghoa yang Sepertinya Sedang Buru-Buru

Orang pertama yang saya perhatikan adalah, seorang bapak-bapak keturunan Tionghoa yang sepertinya tidak sabar menunggu giliran foto. Perawakannya tinggi-besar, dengan baju dan jam tangan yang sepertinya tidak murah. Orang tersebut berdiri di depan pintu, sambil sesekali melihat kedalam atau bertanya kepada petugas. Mungkin dia adalah seorang pengusaha yang lagi sibuk, namun menyempatkan waktunya untuk mengurus perpanjangan SIM. Dan jenis SIM yang dia urus adalah SIM B1. Padahal kalau dia mau duduk di kursi antrian yang disediakan dan menunggu dipanggil, setidaknya kakinya nggak akan pegel berdiri lama. Toh mau duduk atau berdiri di depan pintu hasilnya juga akan sama, kalau dipanggil baru bisa masuk. 😀

2. Orang Indonesia yang Sepertinya Sibuk dan Sedang Buru-Buru

Ada satu lagi yang juga sepertinya nggak sabar ingin cepat-cepat kelar mengurus perpanjangan SIM. Perawakannya bapak-bapak dengan perut yang menggembul, memakai tas samping, memakai jam tangan mahal dan berkali-kali menelepon seseorang. Kalau diperhatikan sih seperti seorang pengusaha kontraktor yang sedang menggarap proyek pembangunan di suatu tempat. Dia berkali-kali mondar-mandir di depan pintu, menelepon anak buahnya apakah sudah sampai di tempat proyek, duduk, berdiri lagi di depan pintu, bertanya kepada petugas, menelepon anak buahnya apakah bahannya sudah oke, mondar-mandir, telepon lagi dan begitu seterusnya sampai dia dipanggil untuk foto SIM.

3. Seorang Pengusaha yang Duduk Woles Sambil Sesekali Menelepon

Orang ketiga yang saya perhatikan adalah seorang keturunan Tionghoa dengan perawakan agak gemuk, tapi dia lebih santai duduk di tempat antrian. Namun tetap sesekali dia menelepon menanyakan soal barang. Sepertinya dia seorang pedagang, atau distributor suatu produk. Soalnya samar-samar saya dengan dia memesan barang sampai seratus kilogram, entahlah saya kurang tahu barang apa yang dia pesan. Tapi yang pasti dia orangnya santai.

4. Bapak-Bapak yang Mungkin Adalah Pengusaha Bahan Pokok

Kalau bapak-bapak yang ini duduknya tepat di sebelah saya, sepertinya pengusaha bahan pokok. Soalnya waktu saya intip, bapak tersebut sedang membuka buku catatan yang di buku tersebut bertuliskan “BUKU TELOR”. Sambil membaca dan menulis di buku tersebut, bapak tersebut juga menelepon seseorang. Kemudian untuk mengisi waktu, bapak tersebut nggak segan untuk membaca Al quran kecil yang dibawanya.

5. Ibu-Ibu Keturunan Tionghoa yang Kurang Lancar Berbahasa Indonesia

Kalau yang ini saya perhatikan waktu si ibu menjalani foto. Petugas fotonya memberi instruksi, ternyata si ibu berbicara dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Kemudian si Petugas berbicara dengan bahasa Inggris, namun si ibu sepertinya juga nggak seberapa paham.

6. Bapak-Bapak Keturunan Tionghoa yang Nggak Bisa Bahasa Indonesia

Setelah si ibu yang kurang lancar bahasa Indonesia, kemudian giliran bapak-bapak yang mungkin suaminya ibu tadi. Si bapak malah nggak ngerti bahasa Indonesia dan akhirnya petugas berbicara dengan bahasa Inggris.

7. Bapak-Bapak India

Setelah mister yang nggak bisa bahasa Indonesia, kemudian tiba giliran seorang bapak-bapak berperawakan India. Si petugas mengajak bicara dalam bahasa Inggris, eh ternyata si bapak India tadi malah lancar berbahasa Indonesia.

8. Blogger Senior

Akhirnya tiba giliran saya foto, gaya dikit…cekrek. Selesai foto, lah kok giliran berikutnya saya melihat seseorang yang kelihatannya familiar. Lah, itu kan Pakde Cholik! Itu loh, blogger senior yang salah satu blog populernya bertitel BLOG CAMP. Kalau belum tahu, kebetulan saya pernah berfoto sama beliau waktu Sunday Sharing beberapa waktu lalu.

blogger
Saya, Pakde dan Sari Widiarti di acara Sunday Sharing

Ternyata Pakde Cholik juga sedang mengurus perpanjangan SIM saat itu, waktu pas-pasan saya pun menyapa beliau. Setelah Pakde selesai foto, kami pun mengobrol sebentar, karena Pakde sepertinya sedang buru-buru. 😀

Akhirnya sekitar jam satu siang, SIM C baru saya pun sukses diperpanjang sampai lima tahun mendatang. Sedangkan SIM A saya masih berlaku sampai empat tahun mendatang, kebetulan SIM A dan C saya tidak bikin barengan, jadi masa berlakunya pun beda. Dan saya pun kemudian cabut kembali pulang, karena pekerjaan sudah menunggu saya di rumah.

Yess, akhirnya urusan memperpanjang SIM C beres sudah, ternyata SIM saya yang telat sebulan nggak kena denda keterlambatan. Dan lagi info yang saya dapat di sana adalah, kalau SIM yang telat diperpanjang masih kurang dari dari tiga bulan, masih bisa diurus di SATPAS keliling. WHATTT?!?!?! Tahu gitu kan aku nggak usah jauh-jauh ke Colombo. *Nangis di pojokan. :'(

You may also like...

13 comments

  1. Cieee ketemu Pakdhe hehehe
    Elang…. aku kira Colombo luar negeri eh tak tahunya 🙂
    Untung ya kamu udah perpanjang SIM sekarang, kalau gak takut ditilang juga
    Pas ke Kediri untung ga ada pemeriksaan juga

    btw Abel manaaaaaaa??? kangen ikh

    Elang: Lihat postingan sebelumnya deh Mei, ada cerita Abelnya 🙂

  2. Sangat jelas dan detail nih, artikelnya..
    Hho..

    Ternyata waktu menunggu juga bisa dipakai belajar menganalisa orang yaaa…
    Dan ampe detail gitu ngamatinnya, hho..

    Makasih tutorial perpanjang sim-nya!!
    Saya baru bikin sim A 3 tahun lalu. Jadi belum pernah ngerasain perpanjang sim, hhe..

    Elang: Harus detil, selain buat catatan pribadi kalau besok perpanjangan lagi, bisa buat share info ke pembaca juga. 🙂

  3. Wah.. Ketemu pakde nih.. Salam buat pakde ya
    Sekarang perpanjang SIM harus pake tes kesehatan juga ya? Baru tahu. SIM ku baru habis 2019 nanti, hehehe.. Masnya juga perhatian banget sampe merhatiin orang2 sekitar. Saya mah main hape aja mas daripada merhatiin orang, hehehe

    Elang: Kalau di kantor Satlantas mesti pake tes kesehatan kok, kalau di satpas keliling yang biasanya nggak. Sebenernya ini efek dari hape yang batrenya habis sih, hahaha jadi mati gaya 😀

  4. Aku bukan orang Surabaya. Tapi mungkin ngurusnya nggak beda jauhlah sama yang diterangin Mas Elang. Aku kira perpanjang SIM yang udah telat harus bikin dari awal lagi. Ternyata nggak. Sebenernya ngurus SIM itu gampang mas. Cuman aku orangnya gak suka nunggu, pengennya cepet gitu aja 😀

    Elang: Pada akhirnya suatu hari nanti, kamu akan merasakan yang namanya menunggu. Menunggu jodoh misalnya #eh

  5. Aku KTP+SIM wilayah sidoarjo, urus di colombo bisa juga ya berarti?

    Elangg: Sepertinya bisa, tapi buat apa, malah ribet. Sekarang banyak SIM keliling yang bisa dimanfaatkan kok. Lebih mudah dan cepat. 🙂

  6. Kak kan katanya mulai bulan mei 2016 kalo SIMnya terlambat memperpanjang satu hari aja bakal harus bikin yang baru. Peraturan ini sudah berlaku di surabaya gak sih kak? Makasih

    Elangg: Belum pernah dengar, mungkin di Surabaya belum ada peraturan seperti itu! 🙂

  7. q telat 5 hari ni.lupa g ngecek.masih bisa prpanjang d keliling kali ya
    .biayanya sama 75 ataw lbih ya gan kira2

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *