[Fiksi] Semangka Dan Melon

Perkenalkan nama gue semangka, gue original jomblo. Gue tahu, di setiap perkenalan pasti ada yang namanya jabatan tangan. Tapi itu ngga berlaku buat gue yang elo tau sendiri, gue ngga punya *ehm..tangan. Jadi jangan suruh gue buat jabatan tangan. Sudah hampir seperempat abad umur gue, tapi gue belum pernah sekalipun merasakan dicintai oleh seorang perempuan. Kalo mencintai udah sering banget buat gue. Tapi rejeki dan jodoh adalah misteri. Selalu saja tolakan yang gue terima.

Hari itu, seperti hari-hari biasanya. Gue jalan sendirian. Ngga ada teman, papa pergi, mama arisan. Gue melihat sesosok yang berbeda. Sangat menarik hati gue, dan gue yakin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama. Entah energy apa yang merasuki tubuh gue, seolah memberikan keberanian untuk menyapanya.

“Hai, nama gue Semangka” sapa gue sambil nyodorin tangan buat kenalan. Dan dia senyum, manis banget.

“Hai, nama gue Melon”

Nama yang indah, seperti wujud si empunya nama. Benar-benar perpaduan yang sempurna.

Singkat cerita, gue pun pedekate sama Melon. Melon anaknya asik. Entah kenapa juga gue yakin dia punya perasaan yang sama. Dari cara dia memperhatikan gue, sampe tatapan matanya yang seolah memberi sinyal untuk gue ungkapin cinta. Tepat setelah kita berdua kenalan cukup lama, mungkin inilah saat yang tepat buat gue nembak Melon. Di bawah pohon kedondong, di sore itu.

“Melon, aku sayang kamu!” Gue ungkapin tepat di depan dia, sambil berlutut. Sementara Melon yang duduk di bangku taman, seketika tersenyum. Tuhan, semoga Engkau menjodohkanku dengan Melon hingga akhir hayat. Doa gue dalam hati. Senyum Melon begitu manis, gue seolah berubah menjadi anak kecil yang diberi gulali gula. Perasaan terbahagia yang pernah gue rasakan.

“Aku ngga mau pacaran!”

Jlebb. Seketika hati gue hancur, remuk. Seperti pesawat yang lepas landas, sampai di ketinggian 2000 kilometer kehabisan bahan bakar dan jatuh. Hancur berkeping-keping. Gue ngga nyangka, ternyata dugaan gue keliru. Melon ngga mau jadi pacar gue.

“Aku mau kamu nikahin aku!” Kata Melon.

Gue kaget. Benar-benar di luar dugaan gue. Ternyata Melon bukan mau pacaran, tapi dia mau menikah membina rumah tangga dengan sebiji Semangka buluk kayak gue. Ah, benar-benar anugerah terindah dalam hidup gue. Seketika gue loncat setinggi-tingginya. Melon tertawa lepas melihat tingkah kekanak-kanakan gue. Saat itu, adalah momen terindah yang takkan pernah gue lupakan seumur hidup gue.

Tepat dua bulan kemudian kami pun menikah. Walaupun tanpa cincin yang melingkar di jari. Karena elo tahu kita ngga punya ehm, tangan!

Ternyata dalam hubungan rumah tangga ngga selalu harmonis. Selang setengah tahun kita menikah, ada kerenggangan dalam hubungan kita. Gue sebagai laki-laki yang bertugas mencari maisah untuk menafkahi keluarga gue, lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada bersama Melon, istri gue. Jangan ditanya bagaimana gue bekerja dengan kondisi gue yang ngga punya, elo tahu “tangan”! Dan mulai timbul kecemburuan dalam hati istri gue. Melon mulai curiga macem-macem. Padahal gue ngga pernah macem-macem. Kesibukan di kantor memang benar-benar menguras waktu gue bersama keluarga. Hal ini membuat Melon gampang emosian. Sebenernya dia hanya minta satu hal. Quality time with family.

“Kamu ngga pernah ada waktu buat bersama” Perkataan Melon benar-benar membuat gue down.

Gue berusaha buat meyakinkan Melon, bahwa dialah satu-satunya wanita yang gue cinta. Gue selama ini bekerja keras semata-mata hanyalah ingin membahagiakan dia. Selain untuk memenuhi tuntutan hidup yang semakin keras. Akhirnya Melon pun mengerti, gue bahagia.

Weekend setelah gue gajian, gue mengajukan cuti untuk liburan bersama istri gue, Melon. Kita berlibur ke pantai, menyewa sebuah kamar di hotel. Dan dua bulan setelah liburan itu, gue mendapat kabar gembira. Melon hamil. Terima kasih Tuhan. Setelah penantian panjang, akhirnya kita akan mempunyai anak.

Tepat setelah sembilan bulan dan sebelas hari. Anak gue pun lahir. Melon melahirkan normal. Semua berjalan lancar. Sujud syukur gue panjatkan segala pujian kepada Tuhan. Lengkap sudah keluarga kita. Lengkap sudah kebahagiaan gue, dan Melon tentunya.

“Mau dikasih nama apa anak kita sayang?” Tanya gue.

“Bagaimana kalau, kita kasih nama dia, Mangga!”

Pesan moril : Dalam hidup ngga hanya ada kebahagiaan, ada juga masa-masa sulit. Kita harus menghadapinya dengan kepala dingin dan berusaha sebaik-baiknya. Tuhan ada di setiap langkah kita. Mintalah pada-Nya, dan bersyukurlah atas segala kenikmatan yang kita terima.

*Ini adalah cerita fiksi yang pernah saya tulis di blog lama, ada komedi dan pesan moril di dalamnya. 😀

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *