[Review] Film Pendek : Gelas Kaca

Ada yang masih terjebak dengan kenangan di masa lalu? Dimana kalian pernah memiliki ekspektasi besar terhadap suatu perjuangan, dan dulu pernah berharap bisa bahagia dengan pilihan kalian. Ya, tentu siapa saja pernah memiliki kenangan. Entah itu kenangan tentang cinta, tentang perjalanan dalam mengejar mimpi, ataupun tentang kesalahan yang akan selalu menjadi pelajaran besar dalam hidup.

Seperti yang diceritakan dalam monolog yang berjudul Gelas Kaca.

Kita bisa saja melihat tembus ke dalamnya, atau bercermin di pantulannya.

Pasti kalian bingung, ini si Om lagi ngomongin apaan sih? Hehehe, sudah dengerin narasi di atas? Narasi tersebut adalah narasi dari sebuah film pendek yang berjudul ‘Gelas Kaca’. Beberapa hari lalu kebetulan banget saya diundang untuk menghadiri screening sekaligus syukuran atas kelarnya proses pembuatan film pendek garapan teman-teman dari EPictures Production, yang mana di sana selain diadakan pemutaran film ‘Gelas Kaca’ juga ada sesi diskusi mengenai film mereka.

Film yang berdurasi sekitar 4 menit 30 detik ini bercerita tentang seorang perempuan yang mendatangi sebuah rumah, di mana di dalam rumah tersebut satu persatu kenangan tentang masa lalunya kembali muncul. Dari kenangan bahagia saat seorang laki-laki mencintai dia, sampai dia harus kehilangan laki-laki yang dicintainya tersebut. Di akhir cerita, si perempuan tersebut meninggalkan sebuah kertas dan kalung di pintu keluar rumah. Dan di pun pergi dengan membawa sebuah tas yang berisi barang-barang, dan kenangan atas masa lalunya.

Jangan ditanya tentang detilnya, karena tidak ada dialog sama sekali di dalam film ini. Kita hanya disuguhi sebuah narasi, dan visual tentang seorang perempuan dan kenangan-kenangannya. Kita sebagai penontonlah yang diajak untuk berimajinasi bagaimana detil dari film ini. Bukankah dengan begitu kita bisa menemukan jalan cerita yang sesuai dengan keinginan kita. Mungkin, seperti itulah yang Ryo sebagai penulis harapkan dari film ini. Film ini disutradarai oleh Edvano Rahmana yang kebetulan pernah menggarap beberapa film di ibukota.

So far, sebagai penikmat prosa, saya suka banget dengan narasinya. Ditambah pembaca puisinya begitu mengerti bagaimana membawakan puisi agar bisa dinikmati pendengarnya. Soal kualitas pengambilan gambar, sampai pencahayaan dan detil dalam film tersebut, layak banget disejajarkan dengan film-film besar di Indonesia. Kelihatan banget mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dalam dunia perfilman.

Melihat film sependek ini, kita nggak bisa menangkap pesan sepenuhnya hanya dengan sekali lihat. Seperti halnya membaca sebuah fiksi mini dalam karya tulis, perlu beberapa kali membaca untuk mengerti isinya, dan berimajinasi atas jalan ceritanya.

#Makjleb

Buat kalian yang kepengen banget melihat film ini, sayang banget untuk beberapa waktu ini mungkin masih belum bisa. Rencananya film ini akan diputar di beberapa kota, termasuk diantaranya Jogja, Semarang dan Malang. Mereka bekerja sama dengan salah satu pengembang aplikasi Android, aplikasi yang bernama SAR (Susan Augmented Reality) ini adalah scanning mobile content application dimana kita bisa menonton video dengan cara scanning obyek seperti foto, banner, kartu nama, brosur dan lain sebagainya. Cara baru untuk mempromosikan sebuah produk nih. Di sinilah nantinya EPictures akan mempromosikan film mereka.

So, ditunggu saja nih buat yang penasaran. Sambil menunggu launching filmnya, lihat bannernya di sini yuk! 🙂

film pendek, gelas kaca, susan augmented reality, sar, ryo maestro, epictures production, film

You may also like...

5 comments

  1. Durasi lima menitan mah udah pas banget, ah moga bisa diputer di Taman Film nih.
    Saya juga kalau bikin film pendek biasanya pake model narasi, alasannya kalau pake suara dialog mah ga ngerti soal alat dan teknik perekaman suaranya, suka ga kedenger.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *