Praktek Hedonisme dan Ketidak Pedulian Terhadap Lingkungan Pada Hari Raya Idul Fitri

Sebelumnya saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, barangkali jika saya dan keluarga pernah berkata atau bertindak yang menyebabkan tidak berkenan dalam hati teman-teman dan saudara sekalian. Selamat hari raya Idul Fitri, taqobbalallahu minna waminkum.

Nggak kerasa sudah Idul fitri kembali, kalau di kota asal saya di Surabaya, hal yang paling identik banget saat menyambut hari raya Idul fitri adalah bunyi-bunyi dari berbagai jenis petasan. Dari yang bunyinya dir, dor, dar sampai priiit daarr juga ada, komplit menghiasi hari-hari menjelang lebaran. Malah di beberapa masjid di daerah tempat saya tinggal, pada malam tertentu mendekati takbiran, jalan sengaja ditutup khusus untuk menyalakan petasan yang ukurannya dari sebesar puntung rokok sampai sebesar kaleng biskuit. Bunyinya jangan ditanya, mak mbledaar banget.

Kalau ditanya, budget ratusan ribu hingga jutaan bisa digelontorkan hanya untuk membuat petasan dengan ukuran paling ekstrim. Duit siapa? Emmm,,,

Suatu kali saya pernah ngobrol dengan seorang teman, di daerah tempat dia berasal (suatu daerah di Jawa Timur), di salah satu masjid di sana memang mengagendakan penyalaan petasan sebagai salah satu susunan acara dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Alasannya sih tradisi untuk menyambut kemenangan setelah satu bulan penuh menjalani berbagai ujian di bulan Ramadan. Lalu darimana budget yang harus disiapkan untuk mengadakan acara tersebut? Kalau kata teman saya sih dari penggalangan dana ke para jamaah di masjid tersebut.

Wow, penggalangan dana untuk patungan membeli petasan dan lain-lain?

Oke, ini tradisi, bukan hanya di daerah tempat teman saya berasal, tetapi mungkin bahkan di hampir seluruh daerah di Indonesia. Bahkan di Surabaya tempat saya tinggal.

Kalian yang membaca tulisan saya ini barangkali ada yang kemudian tidak terima, it’s OK! Saya bukan mengutuk kalian yang melakukan hal tersebut kok, apalagi mengatakan kalian kafir dan sebagainya. Tapi sayang aja sih, karena disamping kesenangan orang-orang yang melakukan penyalaan petasan dan lain-lain, ada banyak orang lain yang merasa dirugikan.

Di dalam Al Quran, surat Al Isro ayat 26-27 disebutkan bahwa: janganlah kalian memboroskan hartamu, karena pemborosan adalah saudaranya setan. Pemborosan di sini bisa berarti membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak manfaat atau yang sifatnya merusak. Apakah membelanjakan harta untuk membeli dan menyalakan petasan termasuk tidak manfaat dan sifatnya merusak? Terserah bagaimana kalian memandangnya.

Lebaran kemarin saya berkunjung ke salah satu rumah tetangga, saat kami tiba di rumah tetangga tersebut, terlihat si pemilik rumah sedang sibuk menggotong tangga. Setelah bersalaman beberapa saat, pak tetangga tersebut minta maaf kalau dia sedang repot membetulkan atap rumah. Kebetulan atap rumahnya terbuat dari asbes, yang pada malam sebelumnya entah bagaimana ceritanya, ada satu petasan yang mendarat tepat di atas atap rumah tersebut dan kemudian meletus. Alhasil atap rumah si bapak tetangga tersebut kemudian menjadi bolong sebesar koin lima ratusan, syukur aja sih petasan tersebut hanya meninggalkan bolongan di atap. Tapi cukup merepotkan juga, lebaran hari pertama yang seharusnya dimanfaatkan untuk silaturahmi, bermaaf-maafan, merayakan kemenangan dengan keluarga dan kerabat, harus dilalui dengan membetulkan atap rumah. “Takutnya kalau nggak segera dibetulkan. kalau hujan bisa bocor” ujar si bapak.

Istri saya sedang hamil 9 bulan, pada malam takbiran kemarin istri saya mengeluh tidak bisa tidur nyenyak sampai pagi. Padahal istri saya harus banyak istirahat, paginya harus berangkat solat Ied dan bersilaturahmi. Alasannya karena dia bolak-balik mendengar suara petasan yang cukup mengagetkan, karena saking kencengnya.

Teman saya, ada yang mengeluh, anaknya yang masih bayi sering kaget mendengar suara petasan.

Salah satu tetangga, ibu-ibu umurnya sekitar hampir 70-an. Nggak bisa tidur, bahkan mengeluh kalau seolah dia merasa rumahnya bergetar saat petasan dinyalakan.

praktek hedonisme
Salah satu foto perayaan petasan yang dikirim teman

Dan yang paling bikin kesel itu, sampah yang ditinggalkan bekas dari petasan-petasan tersebut. Kemarin saya dan istri jalan melewati daerah WadungAsri, di sepanjang jalan sampah kertas bekas petasan bertumpukan. Info dari seorang teman, di daerah Medokan juga penuh sampah bekas petasan. Menurut kalian, siapa yang kemudian dirugikan dengan adanya sampah-sampah tersebut? Jangan tanya ke Google, tanyakan pada hati kita masing-masing!

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *