Perokok Merdeka

Ini adalah tulisan dari seorang teman, Rio Maestro empunya Banyu Anget. Lelaki yang hidupnya selalu bersinergi dengan kopi dan diksi, hingga akhirnya menelurkan beberapa judul film pendek. Salah satunya adalah film pendek yang berjudul “Ujung Selendang Sang Penari” di tahun 2011.

*****

Pagi ini saya menikmati secangkir kopi kental, dan sebatang rokok kesukaan di sebuah warung kopi langganan. Entah kenapa tiba-tiba banyak pembicaraan tentang rokok pagi itu. Di meja sebelah ada yang berceloteh:

maringene rokok larang, rokokan suket ae!“.

Yang artinya: “Habis gini rokok mahal, rokokan rumput saja!”

Usut punya usut, koran pagi itu yang menjadikan bahasan tentang kenaikan cukai rokok sebagai tagline-nya. Saya terdiam, dan merenung (tetap sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok ?)

Sebagai perokok, saya adalah orang yang rela mematikan rokok yang sedang saya nikmati, kapanpun bila rokok tersebut mengganggu orang lain di sekitar saya. Dan sebaliknya, rela membayar berapapun untuk membeli sebatang saja rokok yang ingin saya nikmati.

Di era 71 tahun merdekanya negara ini, menikmati kopi dan rokok adalah salah satu kebanggaan saya berdarah dan berdaging sebagai manusia indonesia.. Tembakau dan kopi adalah sesuatu anugerah yang dilimpahkan kepada bangsa ini, sehingga kita bisa menikmati secara merdeka/ independent (bukan freedom/bebas).

Contohnya merdeka adalah, betapa tembakau yang dilahirkan oleh tanah dan bumi negeri ini, bisa kita nikmati dan kelola demi kepentingan negeri ini. Tembakaunya sebagai rokok untuk dinikmati, pajaknya sebagai modal pemerintah untuk melakukan apa saja yang pastinya demi negara ini juga.

Bangsa yang sudah merokok tembakau jauh sebelum merdeka ini, sepatutnya bangga dan bersyukur atas kemerdekaan yang memungkinkan kita ‘berkuasa’ untuk mengelola apapun yang menjadi milik kita. Mengelola tentunya berarti mengendalikan segala dampak baik-buruknya dalam konteks manusia suatu negara yg merdeka. Dengan melihat konteks antropologi dan budayanya juga. Bagaimana membangun kepedulian pada dampak buruknya (kesehatan) dan dampak baiknya (ekonomi melalui penerimaan pajak), adalah kewajiban dari hak ‘kemerdekaan’ yang kita miliki.

Maka sepatutnya, demi kelangsungan kemerdekaan yang hakiki sebagai seorang perokok. Saya harus peka pada dampak buruk tersebut, termasuk tidak merokok di area umum. Itu adalah harga mutlak sebagai warga negara merdeka yang juga perokok. Dan pun sebaliknya, saya harus peka pada dampak baik yang bisa kita sumbangkan melalui rokok.

Bila pemerintah merasa rokok sebagai salah satu industri besar di tanah air yang masih “pelit” menyumbang pemasukan. Hingga kemudian menaikkan harga rokok menjadi berapapun. Sebaiknya kitapun peka bahwa dalam hal ini saya sebagai warga negara merdeka yang merokok, punya kesempatan untuk andil dengan cara membuka pola pikir saya untuk bersedia dan rela mematuhi apapun peraturan tersebut. Bukankah peraturan terhadap dampak baik-buruk merokok itu dilakukan oleh saudara sebangsa dan senegara yang sama-sama merdeka. Demi kepentingan bangsa pula, agar terjamin kemerdekaan hakiki setiap warga negaranya.

Saya meloloskan sebatang rokok dari saku kemudian menyulutnya. Rokok kedua pagi ini. Entah mengapa, rokok tersebut menjadi lebih nikmat. Mungkin karena saya telah menemukan kesadaran baru. Bahwa sebagai warga negara bangsa yg merdeka, saya baru saja menjalankan peran kemerdekaan sebagai perokok. Yang tetap mengindahkan batasan dan konteks. Bahkan ikut andil nyata dalam pengelolaan tembakau sebagai komoditas negara. Dengan cara peduli pada setiap dampak pengaruh ‘sebatang rokokpun’ yang saya hisap, baik dan buruknya bagi negara ini.

Saya seorang warga negara, seorang perokok. Dan saya merdeka. Selamat menikmati kopi dan rokokmu kawan..

Merdeka!!

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *