Pengalaman Dengan Petasan

“Dar.. Der.. Dor…!!!”

Wow suara petasan dan kembang api dimana-mana, biasalah meskipun di Indonesia menyalakan petasan pada saat Ramadhan ataupun lebaran dilarang secara hukum namun tidak bisa dipungkiri petasan sudah menjadi tradisi di negara kita. Tidak ada lebaran dengan tidak menyalakan petasan atau kembang api. Hehehe..

Om suka maen petasan juga ya?

Enggak, saya mah nggak suka. Selain bahaya, berisik juga sayang sama duitnya.

Kalo dikasih gratis mau om?

Boleh. #eh plaak!

Saya ada pengalaman nggak enak banget sama petasan. Kejadiannya sekitar kelas 3 SMP, waktu itu sedang berlangsung pelajaran Bahasa Inggris-nya bu Supardi, yang terakhir saya dengar sih beliau sudah almarhumah. Waktu itu bu Supardi berumur sekitar 60-an tapi beliau masih semangat dalam mengajar, yah namanya juga anak-anak SMP, waktu itu ada saja julukan atau panggilan iseng buat beliau. Ya sudahlah kalian nggak usah tahu apa saja panggilan iseng buat beliau, nggak enak juga orangnya sudah nggak ada.  
“Maafkan saya yang banyak dosa sama ibu!”

Jadi ceritanya saat itu untuk pertama kalinya saat itu saya datang terlambat. Saya bukan termasuk murid yang suka duduk di belakang, dan saya termasuk anggota gank cupu, sekali lagi CUPU! Dan karena saya datang terlambat, bangku depan yang biasa saya duduki sudah ada yang nempatin. Dan dengan terpaksa saya harus mencari bangku yang kosong, satu-satunya bangku kosong hanya ada di belakang dengan teman sebangku yang bernama Johan. You know-lah, Johan bukan termasuk anak gank cupu, tapi saya nggak akan bilang dia nakal atau jahat, tapi dia hanya bukan bagian dari gank cupu

Pelajaran pun berlangsung, entah kenapa saya jadi kurang memperhatikan bu Supardi. Dan puncaknya adalah ketika si Johan ini mengeluarkan sesuatu dari tas, dan itu adalah petasan. Saya jadi ikut usil banget main-mainin itu petasan, tanpa dinyalakan tentunya. Kemudian si Johan nyeletuk.

“Berani nyalain gak?”

“Hah, nyalain?”

“Iya, nanti langsung buang ke luar!”

Kebetulan banget saat itu saya duduk tepat di pinggir jendela, jadi kalau mau lempar petasan keluar tinggal gampang saja. Saya pun lalu ikut nyeletuk mengiyakan, walaupun nggak serius sih. Kampretnya adalah Johan kemudian mengeluarkan korek api, #shit ini anak serius nih. Antara perasaan takut dan gengsi pengen dibilang jagoan, saya mendekatkan petasan tersebut ke korek api yang sudah menyala. Tapi kemudian hati kecil saya berteriak, “jangaaaaan..!!!”

Oke, saya nggak pengen bermasalah. Saya pengen sekolah dengan bener. Menyalakan petasan di dalam lingkungan sekolah sama dengan bunuh diri. Terlebih saya adalah salah satu murid kesayangan bu Supardi #IniSerius. Saya lalu mengurungkan niat untuk menyalakan petasan tersebut dan kemudian bisa bernapas dengan lega.

#SHITT!!!!!

Ketegangan mendadak memuncak, antara bingung, takut, panik campur aduk jadi satu. Petasan yang saya pegang ternyata sudah menyala. Padahal jelas-jelas tadi saya nggak jadi nempelin sumbu petasan ke api, hanya mendekatkan lalu saya tarik lagi. Saya baru tahu kalau ternyata sumbu petasan bisa menyala jika didekatkan dengan api dalam jarak tertentu walaupun tanpa menempelkannya. Kampret, ini petasan sudah kadung menyala. Spontan karena takut meletus di tangan saya, petasan itu saya jatuhkan di bawah meja.

BLEDAAR!!!

petasanSemua murid termasuk bu Supardi kemudian melihat ke luar kelas.Mungkin pikir mereka ada yang menyalakan petasan di luar kelas, sedikit merasa lega karena nggak ada yang tahu kalau petasan itu meledak di bawah meja saya. Tapi dasar petasan kampret, suaranya nggak ketahuan, eh asapnya menyembul dengan indah di bawah kaki saya. #TepokJidat

“Kamu kenapa Elang? Sakit hati sama saya?” Tanya bu Supardi dengan sedih.

Bu Supardi maafkan saya! Saya nggak pernah sekalipun pengen nyakitin ibu, saat itu saya hanya bersyukur bu Supardi nggak kenapa-kenapa. Karena kabarnya bu Supardi saat itu punya penyakit jantung. Beberapa teman menyalahkan Johan dengan berbagai alasan, tapi harus saya akui saat itu adalah murni kesalahan kita berdua. Sampai akhirnya kita dibawa ke kepala sekolah, untungnya kita nggak sampai dikeluarkan. Hanya mendapat skors satu hari dan orang tua kita dipanggil ke sekolah.

Sampai akhirnya saya lulus SMP dan kemudian mendengar kabar bu Supardi meninggal dunia, saya jadi sedih ingat kejadian saat itu. Semoga beliau tenang di sana dan segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amin!

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *