Pahala Sebesar Gunung

Pagi itu Samin sedang enak-enaknya menyeruput kopi hitamnya sambil sesekali mendengar merdunya suara burung Cucak Rowo miliknya, tiba-tiba ada terdengar keributan di ujung jalan. Karena penasaran akhirnya Samin pun membenarkan sarung yang sedari tadi dipakainya, dan keluar rumah untuk melihat sumber keributan tersebut. Oh, rupanya bukan orang yang sedang bertengkar. Samin melihat Waimun dan beberapa orang warga kampung sedang membicarakan sesuatu di pos ronda, sepertinya seru banget. Samin pun kemudian mendatang kawanan Waimun cs tersebut.

“Assalamu alaikum!” Sapa Samin kepada beberapa warga kampung.

“Wa alaikum salaaam…” Balas mereka serentak.

“Wah, saya dengar dari dalem rumah, kayaknya lagi ngomongin yang seru-seru nih,” Tanya Samin kepada mereka. “Ada berita apa toh Mun?” Kali ini Samin bertanya kepada Waimun.

“Oalah cak Samin, ini loh cak saya tadi baru dari kampung sebelah,” Waimun mengubah posisi duduknya. “Sampean ngerti pak kardi yang tukang becak itu?”

“Ooh, ngerti lah Mun. Lah wong saya sering nebeng becaknya pak Kardi kalo mau beli pakan burung,”

“Beliau tadi malam meninggal dunia cak,” Waimun memberi kabar mengejutkan kepada Samin.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kok ndak ada pengumuman di speaker mushola toh Mun?”

“Kalo di sini ndak dikabari cak, lah wong pak Kardi warga kampung sebelah,”

“Oiya ya,” Samin melintir jenggot, “Terus dikuburnya kapan Mun?”

“Wah, kebetulan banget, saya baru aja pulang, habis ngikut ke kuburan!”

Terlihat rasa bersalah di wajah Samin karena nggak dengar beritanya, ditambah lagi nggak bisa ikut mengantarkan jenazah ke kuburan.

“Kok sampeyan kelihatannya sedih toh cak, apa sampeyan punya utang sama pak Kardi?” Tanya Waimun melihat Samin yang mendadak bermuram durja.

“Bukan utang Mun, tapi ini bahkan lebih besar dari utang!”

“Loh, apa itu cak?”

“Selain saya nggak bisa nganter pak Kardi yang baik hati itu untuk terakhir kalinya, saya juga kehilangan pahala besar dari Gusti Allah,” Jawab Samin.

Waimun yang nggak paham sama yang omongan Samin langsung garuk garuk kepala. Maklum saja, Waimun meskipun pernah sekolah tamatan SMP, tapi dia agak kurang paham kalau urusan ilmu agama. Lah wong baca alif-ba-ta saja kadang keliru.

Samin yang melihat gelagat Waimun langsung menepuk paha lelaki bertubuh kurus itu.

“Woi, kenapa kok sampeyan celingak celinguk aja?”

“Hehehe, lang wong saya ndak ngerti maksud cak Samin tentang pahala besar dari Allah tadi,” Waimun cengengesan.

“Mangkanya tah, sampeyan kalau disuruh denger ceramah Subuh itu melek, jangan malah tidur!”

Waimun nyengir makin lebar, terlihat noda hitam di sebelah kiri giginya, bekas minum kopi di rumah duka pak Kardi tadi pagi.

“Gini loh Mun, tau ndak sampeyan pahalanya orang yang berta’ziah itu?”

“Ndak ngerti cak,”

“Di dalam Hadist Muslim, Abu Hurairah pernah berkata. Bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, barang siapa yang mensholati jenazah, maka pahala baginya adalah sebesar 1 Qirat. Sedangkan dia yang mensholati jenazah dan mengantarkan jenazah tersebut sampai ke kuburan, maka  pahala baginya adalah sebesar 2 Qirat.” Terang Samin.

“Maaf cak,” Waimun garuk garuk hidung, “1 Qirat itu seberapa ya cak?”

Kali ini Samin tertawa lebar sampai kelihatan gigi-giginya, Waimun memang lugu orangnya.

“Gini loh Mun, waktu itu sahabat juga pernah bertanya. sebesar apakah 1 Qirat itu? Lalu Nabi menjawab, yang terkecil adalah sebesar Gunung Uhud. Kamu pernah ngelihat Gunung Uhud Mun?”

“Belum e cak,”

“Kamu ke Mekkah sana biar tau segede apa Gunung Uhud itu!”

“Oalah cak, buat makan aja susah apalagi buat pergi ke Mekkah,”

Samin makin lebar ketawanya, sampai tersingkap sarung yang dipakainya.

“Jangan putus asa Mun, kalau Allah berkehendak kamu bisa pergi ke tanah suci, pasti akan terwujud. Yang penting banyak banyak berdoa!”

Samin, Waimun dan beberapa warga yang ada di pos ronda makin tergelak. Matahari nggak terasa sudah semakin terik, beberapa warga yang tadi bercengkrama pun mulai beraktifitas kembali.

You may also like...

2 comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *