Musim Gugur Bagi Beberapa Startup Lokal

Belakangan lagi ramai, beberapa startup digital yang sempat mengibarkan benderanya di Indonesia, harus gulung tikar. Ada yang pindah market ke luar negeri, ada yang bertranformasi menjadi startup baru, atau juga ada yang memang benar-benar kolaps.

startup lokal gugurSeperti yang diungkapkan Herlambang, Founder Shopious saat dirinya mengumumkan Shopious gulung tikar beberapa waktu lalu. Persaingan startup di Indonesia, khususnya di bidang e-commerce mengalami persaingan yang kurang sehat. Hal pertama yang dicari masyarakat dalam berbelanja online adalah harga murah, diskon, promo dan lain-lain. Soal kualitas dan nilai historik dari barang yang mau dibeli bukanlah yang menjadi prioritas utamanya.

Jadi bisa dipastikan, startup mana yang berani bakar uang besar-besaran, dialah yang kemungkinan besar mampu bersaing di pasar Indonesia. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, banyak startup di Indonesia yang berhasil menjadi perusahaan raksasa karena kekuatan di modal.

Venture capital atau permodalan dari investor besar baik dari dalam maupun luar negeri, adalah yang digadang-gadang menjadi faktor utama mampu bertahannya sebuah startup digital. Meskipun pada kenyataannya, strategi serta model bisnis juga berpengaruh penting terhadap kelangsungan hidup startup lokal.

Sebut saja beberapa startup yang gulung tikar seperti YessBoss atau FoodPanda, mempunyai model bisnis yang hampir sama, namun kalah dengan Go-Food dari Go-Jek. Meskipun belakangan diketahui, YessBoss sedang vakum untuk mempersiapkan sesuatu yang baru, sedangkan FoodPanda harus ‘pindahan’ ke luar negeri karena pasar di tanah air kurang greget.

Kemudian ada startup marketplace busana, Shopious yang harus gulung tikar. Padahal kalau dilihat, model bisnis yang dijalankan bagus. Namun kalah strategi dengan startup serupa seperti Tokopedia atau Bukalapak. Bahkan Shopious dirasa seperti kurang persiapan dalam memecahkan permasalahan di dalam model bisnisnya. Selain itu, tentu permodalan dalam menjalankan bisnis yang menjadi hal utama tersendatnya pertumbuhan startup mereka. Founder mereka, Aditya Herlambang mempunyai idealisme tinggi dalam hal pendanaan. Bootstrap menjadi pilihan utama mereka, meskipun sebelum gulung tikar sempat ada beberapa investor yang melamar, namun mereka menolak.

Lalu apakah startup dengan pendanaan ventura yang melangit mampu menepati janji mereka kepada para investor? Kita lihat saja, meskipun harus melewati ribuan episode seperti halnya menonton sinetron striping. Terlebih belakangan masyarakat dikejutkan dengan mundurnya salah satu pendiri Go-Jek, Michaelangelo Moran. Apakah ini tanda kalau Go-Jek sedang goyah, memikirkan bagaimana tetap menjalankan perusahaan, di sisi lain harus mempersiapkan pengembalian dana investor? Sekali lagi, kita lihat saja!

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *