Muntingia Calabura

Pagi itu di bawah pohon muntingia calabura, atau yang orang menyebutnya dengan sebutan keres, kersen atau buah ceri. Aku dan dia cuek saja mencari buah-buah kecil yang berwarna merah tersebut, sementara teman-teman yang lain sedang sibuk belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir semester. Namaku Kalilla, dan sahabatku yang sejak kecil telah dengan setia menemani hari-hariku bernama Dania. Wajahnya yang cantik dan kacamata ber-frame putih, membuatnya terlihat lebih anggun. Sangat berbeda denganku yang tomboy dan ngga suka pakai rok, kecuali ke sekolah mungkin.Pagi ini memang ada ujian akhir semester, tapi bukan berarti kita belum belajar bukan. Aku dan Dania sering belajar bersama di rumahku. Dania gadis yang pintar, sementara aku kebalikannya. Otakku sangat payah dalam menangkap pelajaran yang guru-guru berikan. Aku lebih tertarik di seni, sketsa dan gambaran tanganku cukup bagus. Tapi untung Dania dengan sabar mau mengajariku, entah bagaimana dia mampu membuatku memahami setiap pelajaran yang dia ajarkan. Mungkin karena ada chemistry di antara kita, atau memang guru-guru di sekolahan mengajar dengan cara yang old school.

“Kalilaa… Dania….!!” Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil kami. Dia adalah bu Raya, guru fisika sekaligus wakil kepala sekolah.

“I..iya bu, ada apa?” Tanyaku kaget.

“Kenapa kalian tidak belajar seperti teman-teman kalian? Awas kalau ujian kalian jelek!!”

“Iya bu, maaf!” Jawab Dania seketika.

••••••

Ujian tengah semester telah selesai, pagi itu kami semua diharuskan masuk sekolah untuk dibacakan hasil ujian kemarin. Memang sudah menjadi kebiasaan di sekolah kami, setiap selesai ujian akan diadakan evaluasi. Agar setiap murid tahu bagaimana hasil ujian dan dimana letak kesalahan mereka.

“Nilai tertinggi di kelas ini diraih oleh…” bu Raya membacakan peringkat pertama hasil ujian,. “Dan…Dania..??”

Kelihatannya bu Raya sedikit terkejut dengan hasil ujian tersebut.

“Itu kamu Dan!” Kataku pada Dania.

“Hah, serius?!” Dania telihat tidak percaya.

“Tunggu dulu, kenapa nilai Dania dan Kalila bagus semua? Kalian menyontek?” Bu Raya curiga kami menyontek. “Bukankah sebelum ujian kalian hanya main-main di pohon ceri depan sekolah, sementara teman-teman kalian pada belajar?”

“Maaf bu, menyontek tidak pernah ada di catatan hidup kami!” Jawabku agak kesal.

“Lalu apa yang membuat kalian bisa menjawab soal-soal ujian kemarin?”

“Mungkin karena muntingia calabura bu.” Jawab Dania, dan kita berdua-pun lalu tersenyum.

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *