Mudik Dan Hal Kampret Lainnya


Akhirnya saya mudik. Bukan ke kampung halaman saya tentunya, kalo saya nggak jauh-jauh dari Surabaya aja kok. Tapi ke rumah istri dan mertua saya di Bekasi. Sengaja berangkatnya H+1 lebaran karena sekali-kali pengen lebaran di Surabaya juga.

Mudik kali ini naik kereta yang harga tiketnya sebiji hampir setengah juta
Temen ada yang nanya, kok nggak pesawat aja, kan harganya sama! Jawabannya simple, karena kalo naik pesawat, Abel yang berumur 2,5 tahun dihitung penuh, sedang kereta untuk anak usia kurang dari 3 tahun bayarnya hanya 10% dari harga tiket. Tentu saja nggak dapet tempat duduk sendiri.

Ada beberapa kejadian kampret sebelum berangkat mudik.

1. Kacamata Hilang

Sehari sebelumnya, saya dan keluarga berlebaran di rumah orang tua. Rame banget, banyak sodara-sodara yang dateng. Kita seharian di situ, sore baru pulang. Seinget saya, sore sampai besoknya saya nggak pake kacamata yang biasanya. Tapi pake kacamata satunya yang lebih kecil. Disini kampretnya, detik-detik sebelum berangkat naik taksi, saya baru keinget. Kacamata yang biasa saya pake nggak ada, muter-muter serumah masih juga nggak ada. Padahal berpergian tanpa kacamata itu dunia serasa suram. Kampret! Mau nyari ke rumah ortu juga waktunya mefet bangedz!! Ya sudahlah, daripada ketinggalan kereta terpaksa saya mudik nggak pake kacamata!

2. Taxi Tragedy

Taksi juga bikin kampret. Dari rumah ke stasiun kereta jaraknya lumayan jauh, karena bawaan kita banyak, kita putuskan buat naik taksi saja. Istri saya telepon taksi “Loreng” *nama sengaja disamarkan* untuk pesen armada. Jawaban dari mbak operatornya adalah “baik ibu akan kami carikan!”. Tapi dasar kampret, sampai hampir setengah jam itu taksi belum juga nongol. Kemudian si mbak operator telepon istri saya balik mengabarkan kalo taksinya sedang penuh semua, ah si mbak kamprettz kenapa nggak bilang daritadi sik, ini jam keberangkatan kurang sejam lagi!

Akhirnya istri putar haluan telepon taksi “Blue Bird” *yang ini namanya nggak disamarkan karena telah berjasa membuat saya dan keluarga nggak ketinggalan kereta ^^V*. Nggak ada lima menit taksinya sudah dateng, syukurlah! Si mas driver nya baik dan sopan, ah si mas bikin jenggotku bergetar. #plaak

Untunglah waktu itu jalanan lagi lenggang banget, jadi pas lima belas menit sebelum keberangkatan kereta kita sudah sampai dan masuk ke gerbong dengan selamat! Terima kasih taksi “Blue Bird”! ;D

3. Kartu ATM Hilang

Sebelum berangkat mudik istri saya ambil duit di ATM BNI daerah depan UPN Surabaya, waktu itu ambil duit dua kali. Yang pertama ambil buat pegangan, terus balik ambil lagi untuk isi saldo pulsa. Dan waktu pun kemudian berlalu.

Kembali ke stasiun kereta api. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kita sampai di stasiun lima belas menit sebelum keberangkatan, waktu istri saya mengeluarkan dompet buat ngambil tiket kereta, baru nyadar kartu ATM nya nggak ada. Kampret! Duh, kita bingung setengah idup. Mau balik nyari di rumah udah nggak mungkin banget, mana itu duit baru dapet THR, hehehe. Kemudian istri saya baru inget, waktu ambil duit yang kedua kartu ATM nya nggak diambil. Hadeh, ya sudahlah. Saat itu juga saya langsung telepon customer service BNI untuk memblokir kartu ATM dan menanyakan saldo akhir. Alhamdulillah, saldo kita masih tetep. Mas-mas BNI-nya juga baik dan sopan, bikin bulu hidungku bergetar. #plaak plaak plaak

Tapi biarpun kartu ATM hilang, untungnya istri masih bawa buku tabungan, jadi masih bisa ambil tunai kalo memang dibutuhkan. Perjalanan pun dilanjutkan dengan hati gembira!

Akhirnya saya dan keluarga sampai ke Bekasi dengan selamat, rencananya hari ini mau ketemuan sama anak-anak Notif nih di Jakarta. Tahu kan Notif, itu loh e-Magz buat blogger yang baru aja terbit edisi ke-6, download saja gratis di #NotifSix. Doakan saja semua lancar dan nggak ada kejadian yang nggak diinginkan. Amin!

Thanks for reading ya guys! Jangan bosen-bosen kesini lagi 😀 Bye!

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *