Mengajarkan Kekalahan Kepada Anak

Anak saya Abel, sekarang telah berusia 4 tahun lewat lima bulan. Anak cewek saya ini naudzubillah tingkahnya, nggak bisa banget diem. Ada saja yang dikerjakannya. Pernah nih beberapa kali kami coba tes, kalau bisa diam lima detik saja, bakal dikasih hadiah. Dia diam, kemudian dihitung, satu.. dua.. wuzzz Abel lari lagi. *tepokin jidat

Seperti itulah anak kami, entah dulu ‘bikinnya’ ditambahin energi apaan, kami juga nggak ngerti. Abel juga nggak lahir pas gerhana matahari, yang konon katanya kalau anak lahir pas gerhana akan mempunyai kekuatan super. Atau mungkin Abel sebenarnya mempunyai kekuatan super yang kami belum ketahui, entahlah!

mengajarkan kalah kepada anak, abel, raina amabel
Raina Amabel Oktariani (Abel)

Ada satu kebiasaan yang Abel suka lakukan, yakni ketika melakukan sesuatu, dia suka balapan dengan mamanya atau siapapun yang sedang bersama dia. Seperti yang hampir setiap hari terjadi, setiap kami baru sampai di rumah, Abel selalu berlari mengajak balapan dari pagar menuju pintu masuk rumah. Dan Abel harus selalu menang, dia akan bilang, “Aku menang!” Kalau dia kalah, dia akan menangis dan memaksa untuk menang. Akhirnya kami selalu mengalah, abel yang selalu jadi pemenangnya.

Namun yang kami lakukan beberapa waktu lalu beda, seperti biasa, setelah sampai depan gerbang, Abel berlari ke pintu agar dia menang balapan. Namun kemudian istri saya menyusul dan berhasil masuk duluan. “Mama yang menang!”

Hal tersebut kemudian membuat Abel jadi kesal, dia pun kemudian menangis sejadi-jadinya. Untuk kali ini kami memang sengaja tidak memberikan ‘kemenangan’ kepada dia, sambil pelan-pelan kami menjelaskan bahwa kita nggak selamanya menjadi pemenang. Ada kalanya kita harus mengalami yang namanya kekalahan, dan yang penting di kemudian hari kita harus berusaha agar bisa kembali menjadi pemenang. Untuk memberi pengertian tersebut kepada anak berusia 4 tahun memang nggak akan langsung dicerna sama dia. Abel sih ketika diberikan pengertian seperti itu, dia hanya diam sambil pelan-pelan berhenti menangis.

Kami sih percaya, dengan mengajarkan hal-hal seperti itu, akan membuat Abel menjadi lebih kuat ketika dia besar nanti. Seperti halnya di bidang pendidikan, untuk beberapa pelajaran Abel memang lebih lambat dibandingkan beberapa temannya. Dia harus belajar menerima kenyataan tersebut, dan di sisi lain Abel harus percaya diri kalau dia memiliki bakat lain yang mungkin lebih daripada temannya. Itu juga yang jadi pe-er kami sebagai orang tuanya, untuk menemukan dan mengasah bakat yang dia punya.

You may also like...

2 comments

  1. Jadi kangen aku om sama Abel hehe, kapan-kapan semoga bisa bertemu dengan dia lagi yang tingkahnya emang nggak karu-karuan.

    untuk anak seusia Abel mungkin masih belum cukup tahu yaa tentang makna dibalik menerima kekalahan. cuman kalo semisal dia sudah diajarkan sejak dini tentang kekalahan, pasti besok dia lebih bisa nerimo. tapi harus tahu juga, kalo sudah kalah, dia harus bangkit lagi supaya mencapai kemenangan.

    Elang: Iya, namanya belajar jadi orang tua itu memang nggak pernah ada habisnya. Sampe anak udah gede juga tetep belajar. 😀

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *