Makan Kebab

Bicara soal kebab, saya termasuk salah satu penggilanya. Ini makanan meskipun baru booming beberapa tahun lalu tapi kehadirannya cukup membuat lidah saya jatuh hati. Eh, lidah ada hatinya nggak sih?? Pokoknya gitu deh, saya langsung kepincyuut dengan rasanya yang cukup nendang! Eh, kebab ada kakinya ya bisa nendang? Halah mboh wes lah!

Beberapa merk kebab franchise-an sudah saya cicipi, yang paling memuaskan itu kebab yang ada Baba-Baba-nya. Iya, yang katanya kebab Turki itu.  Meskipun banyak pilihan menu seperti roti Maryam, burger dan sebagainya. Entahlah, saya paling tertarik untuk memesan kebab. Karena kebab itu nendang! Enggak, kebab enggak punya kaki buat nendang kok!

Malah saya sempet ada pengalaman yang nggak mengenakkan waktu beli kebab yang ada mahkotanya. Waktu itu beli di daerah Sedati, Sidoarjo. Dari tempatnya kelihatan asoy banget, rame pula yang beli. Nggak seperti kebab-kebab franchise-an lain, kebab yang satu ini menawarkan tempat untuk makan di tempat. Saya dan istri yang lagi kepengen kebab, datanglah ke sini. Kami memesan dua kebab supreme yang super gede, makan di tempat sekalian nongkrong malem-malem.

Hal pertama yang membuat kami gusar adalah, proses pembuatan kebabnya yang super lama. Pokoknya lamanya kebangetan lah. Nggak biasa banget, biasanya paling lama 10 menit udah jadi. Ini sampai setengah jam nggak ada tanda-tanda kebab kami jadi dibikinin apa enggak. Istri saya yang nggak sabaran sampai nanyain mulu, jadi apa enggak nih. Tapi setelah kira-kira setengah jam lebih si mas-mas penjualnya dateng bawa bungkusan kresek, sambil ngomong, “Kebab jumbo dua!”

Kira-kira ngerti nggak salahnya di mana?

Perasaan tadi pesen dua kebab supreme makan di tempat. Dua kebab supreme makan di tempat!

Ini malah dua kebab jumbo dibungkus. Braakkk…. Udah nunggunya lama, pesanannya salah lagi. Saya dan istri cuman sepakat kalau nggak nggak lagi dateng ke situ. Titik!

Selain kebab franchise-an, saya juga pernah mencicipi kebab buatan adik saya, Andan yang kebetulan waktu itu dia lagi punya usaha kebab frozen. Jadi kebabnya dimasak setengah matang, lalu dibekukan di freezer. Cara memakannya pun cukup dipanaskan di microwave atau digoreng lagi tanpa minyak. Kreatif!

Beberapa waktu lalu saat saya dan keluarga makan di sebuah fastfood ayam goreng, pesen menu yang namanya Chicken Hug. Dari gambarnya cukup menggiurkan, eh pas datang ternyata kebab mini dengan isi daging ayam. Hehehe…

Semalem ngidam kebab nih, kebetulan di deket rumah ada kebab franchise-an baru. Entahlah, nggak ada brandnya sih, cuman “kebab” gitu doang. Tapi menu-menunya cukup menggoda selera. Dan belilah saya kebab super jumbo! 😀 Big as always. Begini nih bentuk penampakannya.

makan kebab
Kemasannya bagus

Penasaran sama isinya??? 😉 😉

makan kebab
Kebab

Kulit kebab itu istimewa, renyah gurih dan bikin nagih. Saya pernah beli kulit kebab dan bikin kebab sendiri. Nyemilin kulitnya yang digoreng sebentar tanpa minyak saja enak loh. Enak apa doyan? Hahaha..

kebab
Yummmy….

Aih, melihat isinya asli bikin iman tergoda. Bawaannya pengen nggigit! Berisi potongan tipis smoked beef yang padat, ditambah daun selada, bawang bombay, lada hitam, mayonaise dan saus sambel, beuh dijamin nagih!

kebab
Sluurp…

Dulu pernah punya temen yang jualan kebab franchise-an juga, konon katanya daging kebab yang dipakai itu bukan daging sapi murni. Ada juga yang menggunakan daging unta. Entahlah, karena sampai sekarang belum nemu kebab yang pakai daging unta di Surabaya. Hmm seperti apa ya rasanya? Secara unta juga termasuk binatang halal yang boleh dimakan oleh umat muslim, malah katanya harga satu ekor unta di negara timur tengah sana lebih murah ketimbang harga sapi di Indonesia.

kebab
Gigitan pertama bikin melayang..

Udah deh, jangan ditanya lagi gimana rasanya gigitan pertama kebab saya. Hahaha, maknyus! 😀 😀 😀

You may also like...

One comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *