Macet di Tangkuban Parahu Saat Lebaran

Salah satu hal yang sebenarnya sangat tidak nyaman untuk dilakukan adalah berwisata saat hari libur atau hari besar seperti lebaran, tahun baru dan sebagainya. Seperti yang saya alami saat lebaran tahun 2013, yang kebetulan keluarga dari istri memutuskan untuk berwisata ke Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat.

Saat itu kami berkunjung ke rumah saudara di Bandung, dan kami pun memutuskan untuk jalan-jalan ke Tangkuban Parahu. Itung-itung mumpung pas saya lagi di Bandung, lagian libur lebaran juga masih beberapa hari lagi. Dengan menggunakan mobil yang sudah lumayan uzur, sambil berdoa saja semoga naik ke lokasi nggak akan mogok, secara sebelumnya saat baru masuk ke tol Cipularang mobil sudah kepanasan dan bau gosong.

Namanya juga pas lebaran, jalur menuju lokasi wisata sudah pasti macet. Meskipun begitu perjalanan nggak sampai berhenti, cukup lancar walaupun padat merayap. Gile, ini mobil sebanyak ini kayaknya punya destinasi yang sama, palingan kalau nggak ke Ciater ya ke Tangkuban Parahu.

Sepanjang perjalanan yang paling menarik perhatian saya adalah, Nanas! Yap, mendekati lokasi wisata, sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan nanas yang berjejer-jejer di tepi jalan. Dan ukurannya pun gede-gede banget daripada nanas yang biasa saya lihat di Surabaya. Asli bikin ngiler.

tangkuban parahu
Nanaaaas….

Kami pun kemudian melewati area seperti hutan (entahlah), mungkin Pinus. Udara dingin dan sejuk mulai tercium, bercampur dengan aroma knalpot kendaraan bermotor, hehehe tebak sendiri deh jadinya seperti apa aromanya. Kebetulan juga saat itu sedang gerimis, jadi tambah adem deh!

tangkuban parahu

Karena saking parah macetnya, ratusan mobil berjejer-jejer seperti nggak ada habisnya, kami memutuskan untuk memarkirkan mobil di bawah. Dan harus berjalan kaki lagi sekitar satu kilometer, dalam kondisi jalan yang menanjak dan gerimis. Gila aja nih, jalan sekilo di jalan yang datar aja capek, ini jalanan menanjak naik. Tapi untungnya, karena yang senasib dengan kami jalan kaki ke atas ada ratusan (atau ribuan) orang, plus pemandangan sekitar yang aduhai elok sangat, jadi nggak kerasa capeknya. Palinga laper doang, bawaanya pengen makan mulu.

Dan satu hal lagi yang bikin nggrundel adalah harga makanan di lokasi wisata itu nggak wajar. Sebiji gorengan saja dihargai sampai 4.000 Rupiah, secangkir kopi sachetan saat itu seharga 5.000 Rupiah, padahal beli di warkop deket rumah palingan cuman seribu limaratus.

But the point is, kami pun segera terhibur dengan sajian alam yang sungguh memanjakan mata. Apalagi tujuan berwisata kalau bukan untuk bersenang-senang, menikmati apa yang ada di tempat wisata dan meyakini kebesaran Allah atas segala ciptaannya. Subhanallah.

tangkuban parahu
Penampakan Kawah Ratu

tangkuban parahu

tangkuban parahu

 

Selesai menikmati berwisata di Tangkuban Parahu, saatnya untuk pulang ke rumah. Kami jalan kaki lagi menuruni jalan menuju parkiran mobil, kali ini capeknya baru terasa. Secara pengunjung sudah mulai sepi, plus saya harus menggendong anak saya Abel yang sudah tertidur pulas. Hosh!

Di perjalanan pulang, macetnya justru lebih parah daripada saat berangkat. Kali ini bener-bener macet dan jalannya pun merembet. Kata mertua, biasanya sejam udah nyampe di bawah, tapi kali ini sampai empat jam, bayangkan empat jam!!!

Hosh, memang benar kalau ke tempat wisata pas hari besar harus mau menanggung resiko bakalan macet dan rame sesak! 🙂

 

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *