Korban Penipuan Jutaan Rupiah

Istri saya selain bekerja di sebuah kantor pengembang, juga sehari-hari nyambi jualan pulsa. Alhamdulillah penjualan pulsa istri saya lancar dan rame meskipun hanya bermodal sebuah HP saja, selain mem-back up pulsa untuk teman-teman di kantor, beberapa teman di rumah juga sudah jadi langganan istri saya. Sampai pada suatu hari, istri saya menjadi korban penipuan dan rugi hingga jutaan Rupiah.

penipu. korban penipuan,

Jadi ceritanya, di kantor ada rekanan kerja, sebut saja namanya Buah (karena “sebut saja bunga” sudah terlalu mainstream)! Pak Buah sebelumnya bercerita, kemarin dia ditelepon sama teman sekolahnya, karena sudah lama sekali nggak bertemu, mereka pun bernostalgia. Si teman pak Buah ini bercerita tentang teman-teman masa sekolah, ini dan itu, persis banget sampai pak Buah yakin ini benar-benar teman masa sekolahnya meskipun hanya mendengar suara lewat telepon. Sampai pada akhirnya pembicaraan menjurus ke soal bisnis. Mereka bercerita tentang pekerjaan masing-masing, dan teman pak Buah berencana mengajak berbisnis pulsa. Dia bilang, saat ini dia mem-back up jatah pulsa karyawan di suatu perusahaan. Dengan keuntungan satu transaksi adalah sekitar lima ribu Rupiah, (fyi, keuntungan penjualan pulsa untuk satu transaksi hanya sekitar 500-1000 Rupiah saja). Sedangkan dia saat ini sedang membutuhkan suplai pulsa sebesar sepuluh juta Rupiah. Karena pak Buah nggak ngerti masalah bisnis pulsa, akhirnya pak Buah menghubungi istri saya.

Istri saya yang mendengar tawaran menggiurkan tersebut, sebenarnya nggak langsung mengiyakan. Tapi pak Buah meyakinkan istri saya kalau dia benar-benar teman sekolahnya, lah wong dia ngerti semua nama-nama teman jaman sekolah dulu kok. Kemudian istri saya meminta ijin kepada saya.

Apakah saya setuju? Tentu saja, tidak. Alasan saya sederhana, kita nggak tahu wujud si orang tersebut. Tapi istri saya meyakinkan saya kalau si orang ini adalah benar teman sekolah pak Buah, lah wong dia tahu semua nama-nama teman jaman sekolahnya kok.

Akhirnya saya menyetujui, tapi tetap dengan hati yang mengganjal. Saya bilang ke istri kalau saya nggak percaya dengan si orang ini, tapi ya sudahlah, kalau memang kena tipu berarti kami lagi apes.

Transaksi pertama, si orang ini meminta tiga juta Rupiah dulu berupa pulsa yang di transfer di beberapa nomer. Ada list beberapa puluh nomer yang dikirim, tiap-tiap nomer beragam antara pulsa 50-100ribu Rupiah. Dan, transaksi pun selesai. Si orang ini mengirim bukti transfer uang melalui mobile banking lewat SMS. Seketika itu istri saya mengecek saldo tabungan di ATM, tapi masih belum masuk. Istri saya coba telepon si orang itu, kata dia biasanya untuk transfer via mobile banking akan masuk setelah beberapa jam. Istri saya menunggu sampai malam, dan mengecek kembali saldo tabungan. Dan sampai malam itupun saldo masih tetap, uang yang dibilang sudah ditransfer nggak ada wujudnya. Istri saya coba telepon berkali-kali tapi nomer si orang itu nggak aktif. Itri saya yang saat itu sedang panik, belum berani ngomong ke saya. Akhirnya pergilah istri saya ke rumah pak Buah. Pak Buah pun berkali-kali mencoba menghubungi si orang ini dan nggak berhasil. Sampai beberapa jam si orang ini benar-benar nggak bisa dihubungi, barulah pak Buah sadar kalau dia kena tipu.

Pak Buah hanya bengong, masa iya si temannya ini penipu. Lah wong dulu jaman sekolah mereka dekat, dan dia punya reputasi baik. Kalau yang menghubungi pak Buah kemarin penipu, kok bisa tahu nama-nama teman jaman sekolah, suaranya juga mirip.

Syukur sih pak Buah merasa bertanggung jawab, dan dia mau mengganti kerugian yang dialami istri saya. Karena istri saya juga merasa bersalah, dia berjanji akan mengganti uang pak Buah. Anggap saja ini pelajaran buat kita.

Tiba saatnya istri saya mendatangi saya dengan menangis dan meminta maaf, karena dia nggak mau nurutin apa kata saya. Apa coba yang bisa dilakukan seorang laki-laki kalau istrinya meminta maaf sambil menangis, saya hanya bilang ya sudah, ini pelajaran buat kita. Mungkin kita diingatkan untuk lebih banyak beramal, mungkin juga ini ujian sebelum kita mendapat rejeki yang lebih banyak. Insya Allah.

Sekitar sebulan setelah kejadian itu, istri saya mendapat bonus dari kantor yang jumlahnya lebih banyak daripada uang yang diambil oleh si penipu. Alhamdulillah.

Pelajaran yang bisa diambil:

1. Di jaman yang serba berteknologi canggih saat ini, segala informasi bisa diambil dari seseorang. Terutama dari media sosial. Untuk itu berhati-hatilah menyebar informasi pribadi di media sosial, kalau sekiranya terlalu pribadi, jangan gampang menulisnya di sosmed kalian. Karena bisa saja informasi tersebut digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk modus penipuan, atau alat untuk memeras kalian. Think save, act safe!

2. Hargai pasangan kita, kita tidak berhak memarahi apalagi membenci dia yang terkena musibah. Biasanya seseorang marah pada pasangannya hanya karena barang pemberiannya rusak atau hilang. Itu cemen banget men! Pasangan kamu sebenarnya nggak mau kok barang itu rusak atau hilang, tapi kalau sudah kejadian mau gimana lagi. Marah nggak akan mengubah keadaan. Yang paling penting adalah kesadaran masing-masing untuk berusaha lebih baik lagi ke depannya.

3. Musibah, apapun itu yang mengenai kita, adalah hal yang nggak pernah kita inginkan. Sabar adalah kuncinya. Apapun yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan, nggak perlu marah, sedih ataupun putus asa. Insya Allah kalau kita ikhlas akan ada ganti yang lebih baik.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *