Kisah Kolor Ijo Jadi Pahlawan

Senin pagi adalah hari yang sibuk, begitu juga dengan ketiga bersaudara Pengkol, Bagor dan Paijo. Yang jika disingkat nama mereka menjadi “KOLOR IJO”. Mereka adalah anak-anak dari seorang janda di kampung kecil di daerah Sidoarjo yang bernama Khoiriyah Darniyem yang biasa dipanggil oleh tetangga-tetangga dengan sebutan “KD”. Bu KD adalah seorang buruh serabutan di pasar dan kadang menerima jasa laundry manual, alias mencuci pakaian dengan tangan, dikucek dan disikat. Maklum lah, sebagai seorang pekerja serabutan yang harus menghidupi tiga orang anak yang masih sekolah, mana mampu bu KD membeli sebuah mesin cuci. Untuk makan dan biaya sekolah anak-anaknya saja sudah syukur bisa kebayar. Jadilah modal usaha laundry nya berbentuk bak plastik, sikat dan papan penggilesan.itu pun boleh nyicil sama juragan plastik di pasar.

Pagi ini KOLOR IJO setelah bangun pagi dan mandi, mereka pun sudah siap berada di meja makan. Bu KD yang sejak pukul empat pagi sudah sibuk di dapur, memasak masakan sederhana sekadar untuk mengenyangkan perut anak-anaknya. Menu favoritnya, tempe goreng. Pernah suatu hari bu KD yang merasa dirinya adalah chef yang hebat, setidaknya untuk anak-anaknya sendiri. Mencoba untuk berkreasi membuat menu baru dari bahan tempe. Jadi tempe yang masih berbentuk persegi panjang, dipotong tipis-tipis olehnya. Setelah dipotong tipis-tipis, tempe tersebut dimasukkan ke bumbu racikan khas ala chef KD. Panaskan minyak goreng di atas wajan, lalu masukkan tempe-tempe tersebut. Tunggu hingga kecoklatan, angkat lalu tiriskan. Voila.. jadilah menu baru yang diberi nama “TEMPE TIPIS YANG DIMASUKKAN KE DALAM MINYAK PANAS ALA CHEF KD”. Tapi menurut KOLOR IJO, rasanya masih sama kayak tempe goreng.

“Mak, hari ini nama menunya apa?” Tanya si bungsu Paijo.

“Tempe yang dipotong 5 milimeter bumbu khas ala chef KD digoreng garing” jawab emak mereka dengan bangga memamerkan nama baru dari menu sarapan pagi ini.

“Itu sama juga tempe goreng mak!” Celetuk si sulung Pengkol.

“Udah jangan banyak protes, makan cepat sana keburu telat masuk sekolah. Emak juga mau berangkat ke pasar!”

“Iyaa maak!!!” Jawab KOLOR IJO dengan kompak.

Menghabiskan makanan dalam piring adalah kebiasaan KOLOR IJO sejak dari kecil. Karena emak mereka selalu berpesan, bersyukurlah atas apa yang kalian makan hari ini. Karena di luar sana, masih banyak anak-anak yang kelaparan. Mengais-ngais sampah sekadar ingin mengisi perut, sekalipun dengan makanan-makanan sisa. Lagipula membuang-buang makanan bisa menimbulkan tumpukan sampah, kasihan bumi ini semakin terkubur oleh sampah manusia. Jika bumi ini sakit, manusia juga pasti akan merasakan akibatnya. Bu KD memang sosok yang bijaksana.

KOLOR IJO berangkat ke sekolah bersama-sama, menyusuri pinggiran kali. Karena jarak sekolahan mereka berdekatan, mereka selalu kompak. Sambil berjalan mereka suka bernyanyi, Pengkol jadi suara satu, Bagor suara dua dan Paijo mengisi suara rakyat alias backing vocal. Suara mereka merdu menyanyikan lagu Heal The World dari sang raja pop, Michael Jackson. Mereka memang anak-anak yang cerdas, terbukti dari nilai raport mereka yang ngga pernah keluar dari zona tiga besar. Itulah yang akhirnya membuat mereka bertiga menerima beasiswa dari pemerintah, bebas biaya SPP sampai lulus SMP.

“STOP!!!” Teriak Bagor.

“Kenapa bang?” Tanya Paijo.

“Liat deh itu..!” Bagor menunjuk seseorang pengendara sepeda motor yang membuang bungkusan kantong kresek ke kali. “Wah gawat, tuh orang buang sampah di kali”.

“Bener Gor, memang kebiasaan orang-orang suka buang sampah di kali. Itulah kenapa kali ini sekarang jadi kotor banget kayak gini.” Komentar Pengkol.

“Ga bisa dibiarin nih bang, kita marahin aja mereka.” Paijo terlihat mulai emosi.

“Jangan ah, mending kita berbuat hal yang positif aja daripada harus nyari ribut!” Pengkol memang anak yang mampu berpikir lebih dewasa ketimbang adik-adiknya. “Bagaimana kalo kita bilang ke kepala sekolah buat mengajak teman-teman bersihkan kali ini nanti sepulang sekolah?”

“Setujuuuu… !!!” Jawab Bagor dan Paijo berbarengan.

Mereka bertiga kembali menyusuri tepian kali untuk berangkat ke sekolah.

Jam istirahat, Pengkol dan Bagor yang memang bersekolah di SMP yang sama menemui bapak kepala sekolah untuk mengutarakan maksud mereka. Kepala sekolah di SMP mereka bernama Samiran Bin Bambang, yang disingkat menjadi “ANANG”. Merasa senang sekali dengan usulan mereka berdua. Tapi pak Anang tidak setuju jika acara bersih-bersih diadakan pada waktu sepulang sekolah.

“Kasihan teman-teman kalian, sepulang sekolah pasti panas dan capek, bagaimana kalo hari selasa besok. Kan pas libur tanggal merah, kita mulai pagi-pagi.” Usul pak Anang.

Pengkol dan Bagor mengiyakan usulan pak Anang, memang benar hari selasa besok sekolah libur karena tanggal merah. Jadinya bersih-bersih bisa dimulai dari pagi, biar teman-teman ngga kepanasan.

Keesokan hari, sebagian besar anak-anak SMP teman-teman Pengkol dan Bagor sudah siap berada di titik yang telah ditentukan. Ngga terkecuali KOLOR IJO, si kecil Paijo juga ngga mau kalah. Meski bukan dari SMP tempat kakak-kakaknya belajar, dia tetep ingin ikut acara bersih-bersih kali. Acara dimulai pukul 7 pagi, segala macam snack, minuman dan makan pagi pun telah dipersiapkan oleh panitia.

Anak-anak muda tersebut membersihkan sampah-sampah di sekitaran kali dengan semangat, meskipun beberapa murid cewek ada yang merasa jijik. Tapi jiwa kepedulian mereka sangatlah patut diacungi jempol. Sampah-sampah dikumpulkan di satu tempat, kemudian diangkut oleh mobil pick up dan dibawa ke tempat pembuangan sampah.

“Assalamu alaikuuuum……”

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh salam seseorang, ternyata adalah bu KD. Ibu dari KOLOR IJO itu ternyata juga ingin berpartisipasi dalam acara bersih-bersih kali, tapi bukan sebagai tenaga pembersih. Bu KD membawa senampan besar makanan, bu KD rupanya ingin menyumbangkan menu baru kreasinya sendiri.

“Ayo ibu-ibu, bapak-bapak, adik-adik monggo dicicipi menu baru kreasi saya sendiri. Menu baru ini saya beri nama “KEDELAI FERMENTASI YANG DIPOTONG TIPIS DICELUP KE DALAM ADONAN TEPUNG DAN DIMASAK KE DALAM MINYAK PANAS ALA CHEF KD” bangga bu KD memperkenalkan nama menu baru kreasinya.

“Yaah mak, itu namanya tempe goreng juga!” Celetuk Bagor, anak nomer dua.

Semua yang di situ tertawa, tapi dalam sekejap masakan bu KD ludes tak tersisa. Entah karena nama masakannya yang menarik atau memang udah pada lapar. Nampan besar yang tadinya penuh, sekarang menjadi kosong. Semua merasa senang. Sekitar pukul 11 siang acara bersih-bersih kali selesai. Acara ditutup oleh pidato bapak RT setempat yang mengucapkan terima kasih kepada anak-anak siswa SMP. Dan bakal meninjau kembali kepada masyarakat agar tidak membuang sampah di kali.

Di pojok belakang, bu KD tersenyum puas. Karena sebagai orang tua, mampu mendidik dan mengajarkan kepada anak-anaknya tentang kepedulian lingkungan. KOLOR IJO mampu menjadi anak-anak yang berguna bagi masyarakat. Bu KD sangat bangga kepada mereka. KOLOR IJO memang masih anak-anak yang polos, hanya anak-anak biasa dari keluarga yang sederhana. Meskipun KOLOR IJO bukan siapa-siapa di mata orang lain. Tetapi di mata bu KD, mereka adalah PAHLAWAN.

 

Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang diselenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *