Kehilangan Sepatu di Kuta, Bali

Bali adalah destinasi wisata yang pasti banyak banget orang yang mau buat berkunjung ke sana, bukan hanya soal apa yang disuguhkan di sana, melainkan juga Bali sudah menjadi ikon wisata yang seolah siapapun yang sudah pernah menginjakkan kaki di pulau dewata tersebut akan dibilang keren dan sebagainya. Itulah kenapa seorang traveler Indonesia seolah kurang pas disebut ‘traveler’ kalau belum pernah berkunjung ke Bali, tapi bagaimanapun itukan soal pendapat publik. Mau traveling, ya traveling saja. Toh masih banyak banget sudut-sudut di Indonesia yang nggak kalah kerennya sama Bali.

Ngomongin soal Bali, saya bisa dibilang orang yang pernah menginjakkan kaki ke sana. Eits, tapi bukan sombong loh. Saya baru pertama ke Bali, itupun juga dalam rangka tour perpisahan SMP di tahun 1998 lalu. Nah loh, ketahuan kan tuanya. Jaman segitu belum booming banget yang namanya handphone, apalagi kamera digital. Jadi mohon dimaafkan kalau di postingan kali ini saya nggak punya foto Bali-nya. 😀

pantai kuta bali, bali, joger, legian, pantai
Ilustrasi pantai Kuta, Bali (foto: anekatempatwisata.com)

Ada satu hal yang saya nggak pernah bisa lupa tentang Bali, bukan soal panorama atau keindahan budayanya. Tapi saya pernah kehilangan sepatu waktu bermain di pantai Kuta. Lebih tepatnya bukan kehilangan sih, tapi ketinggalan. Hehehe..

Jadi rombongan tour perpisahan sekolah menggunakan bus sebagai sarana transportasinya, sementara untuk menuju ke pantai Kuta bus besar tidak bisa masuk. Jadi alternatifnya adalah, bus diparkir di tempat parkir yang telah disediakan, daripada jalan kaki terlalu jauh kita bisa menggunakan shuttle bus yang khusus digunakan untuk angkutan menuju ke pantai Kuta.

Barengan sama teman-teman yang lain, saya pun naik shuttle bus namun turun di dekat Joger. Kita mampir ke Joger dulu buat belanja dan mengunjungi pabrik kata-kata yang ngakunya cuman ada di Bali. Di lain tempat tidak ada. Selesai berkunjung ke Joger, kita jalan kaki ke pantai Kuta. Karena memang jarak Joger-Kuta nggak seberapa jauh.

Di pantai, karena kita bermain-main dengan air, sepatu dan sandal pun dititipkan. Dan nyeker lah saya. Saat sedang bermain bla bla bla dan sebagainya, nggak kerasa hari pun sudah semakin sore. Yang kemudian jadi masalah adalah, karena saking asyiknya main-main. Saya nggak menemukan teman-teman rombongan saya. Lah, dicari-cari pada nggak ada, sementara langit sudah semakin gelap. Saya kemudian panik, aliran darah terasa begitu deras mengalir ke kepala. Busyeet, kalo ditinggal rombongan bisa hilang di Kuta nih. Karena semakin panik, saya kemudian buru-buru lari ke jalan dan menunggu shuttle bus untuk kembali ke lokasi parkiran bus rombongan tour. Syukurlah, masih ada shuttle bus yang lewat dan tanpa berpikir panjang saya langsung naik sambil berharap rombongan belum kembali ke hotel.

Alhamdulillah, sampai di parkiran rombongan masih ada. Sesampainya di bus, ternyata masih ada beberapa teman yang masih belum balik. Saya tiba-tiba teringat, sepatu saya ketinggalan di Kuta. Whaaaatt….

Lah, terus piye iki?? Sementara teman-teman rombongan sudah pada balik ke bus, lagian kan jaman segitu masih belum ada yang punya handphone. Kalau balik ke Kuta lebih nggak mungkin lagi. Ya sudah, memang nasib harus memisahkan saya dan sepatu saya di pulau Bali. Akhirnya saya harus merelakan, nyeker sampai ke hotel.

Sampai di hotel, saya membeli sebuah sandal jepit karet warna biru yang sesampainya di Surabaya saya pamerin ke teman-teman. Biarpun sandal jepit karet, belinya di Bali dong! 😀 😀 😀

You may also like...

4 comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *