Jika Harus Memilih, Tangan Di Atas Atau Di Bawah?

Haloo, rasanya lama banget nih nggak nulis tentang curhatan. Sebagai personal blogger saya merasa gagal! *Buang ingus* Oke, lupakan!

Pernahkah kalian merasa iba, terutama pada seorang ibu-ibu tua yang tengah malam harus rela menahan kantuknya untuk mencari rejeki dengan mengais-ngais sampah? Yap, itulah yang baru saja saya rasakan. Barusan saya keluar rumah ke salah satu minimarket 24 jam untuk membeli obat, sekeluarnya dari minimarket tersebut saya sempat terpatung melihat ibu-ibu tua, sekitar umur 60an lah, di tengah malam begini dia mengais-ngais sampah, mengumpulkan semua bahan-bahan plastik atau apapun yang bisa dijual, dimasukkan ke dalam karung besar yang pada saat saya lihat sudah ada satu karung telah terisi penuh, dan yang satunya baru setengah. Saya benar-benar terpatung saat itu, saya lihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Siapa yang tega melihat pemandangan seperti itu?

pengemis, pemulung

Sempat terbesit di pikiran saya untuk memberi sekadar uang seadanya kepada ibu tersebut, tetapi dia bukan pengemis saudara-saudara! Dia tidak meminta-minta. Ah, atau mungkin saya belikan sekadar makanan saja buat pengganjal perut, siapa tahu ibu tersebut belum makan dari sore.

Saya kemudian meninggalkan ibu-ibu tersebut untuk balik pulang, pemandangan serupa saya dapatkan kembali dalam jarak beberapa blok dari ibu-ibu tadi bertugas. Kali ini saya menjumpai ibu-ibu yang lebih muda, berumur sekitar 45an, sama dengan ibu-ibu yang tadi, mengais-ngais sampah mengumpulkan botol-botol bekas atau apapun yang sekiranya bisa dijual kembali.

Hal ini jelas menarik perhatian saya. Seolah-olah mereka (para ibu pengais sampah tersebut) ada yang mengorganisir. Sudah bukan rahasia lagi kalau di negara tercinta kita ini ternyata ada organisasi ilegal yang khusus mengorganisir para pengemis, pengamen atau bahkan penyandang cacat yang dipaksa untuk mencari uang dengan cara mengemis. Kejam memang, padahal mereka kan juga manusia yang mempunyai hak yang sama untuk hidup. Hanya karena mereka tidak mampu mencari rejeki dengan cara bekerja selayaknya orang-orang normal, mereka harus merasakan pahit yang lebih, hanya, untuk mencari pengisi perut, obat lapar.

Saya pernah beberapa kali melihat pemandangan seperti ini, dimana orang-orang tua dan penyandang cacat di sebar di beberapa lokasi seperti lampu merah, tanpa diberi pelindung dari teriknya matahari, hanya berbekal tikar dan topi. Bahkan lebih parahnya, ada yang membawa anak kecil. Benar-benar satu pemandangan yang menyakitkan. Lalu ada juga yang bertugas di tempat keramaian seperti bazar/pasar malam. Saya sangat yakin penghasilan mereka dalam sekali bertugas tidaklah sedikit. Tapi apa mungkin duit tersebut sepenuhnya menjadi milik para pengemis tersebut. Mengingat mereka tergabung dalam satu organisasi.

Lain lagi ceritanya seperti pengemis di ibukota, yang memang sengaja menjadikan “mengemis” sebagai pekerjaan tetap mereka. Lah wong gajinya saja jauh lebih gede dari pekerja pabrik/kantoran. Masih ingat pak Walang? Pengemis yang sanggup membayar biaya untuk naik haji dirinya. Atau penolakan pengemis pada penawaran pekerjaan dari pemerintah, alasannya gajinya kecil. Mereka lebih memilih mengemis karena gajinya lebih gede. Hebat yah mereka!

Yah, biar bagaimanapun kita yang waras ngalah sajalah. Seperti ibu-ibu tadi, dia rela mengais sampah dengan tangannya sendiri untuk sesuap nasi, menyambung hidupnya. Daripada harus sekadar menengadahkan tangan untuk meminta belas kasihan walaupun pendapatan dengan mengemis jauh lebih besar.

Terima kasih sudah membaca curhatan saya, ditunggu komentarnya! 😀

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *