[Fiksi] Bidadari Terbungkam

Namaku Lastri, 19 tahun. Aku tinggal di pinggiran kota Jakarta. Entah apa bisa dibilang layak tempat yang sudah kami tinggali selama puluhan tahun. Aku tinggal bersama bapakku yang adalah seorang pemulung, mengais-ngais sampah sekadar agar bisa bertahan dari yang namanya kelaparan. Setiap hari, setiap bulan bahkan bertahun-tahun sudah ratusan tong sampah yang menjadi penopang kehidupan kami berdua. Kami hanya berdua, setelah enam tahun yang lalu ibu meninggalkan kami karena sebuah batu yang bersarang di kepalanya. Beliau meninggal dunia karena tumor di otaknya dan kami bukanlah orang yang dengan gampang lalu membawa ke rumah sakit, membeli obat atau menginapkan ibu di ICU. Biaya dari mana? Satu-satu nya barang berharga kami adalah televisi 14 inch yang untuk menontonnya saja kami harus menunggu sekitar lima belas menit, dan itupun hanya mampu menyala sekitar sepuluh menit. Selanjutnya kami harus menunggu lima belas menit lagi hanya untuk sepuluh menit yang berharga. Begitu seterusnya.

Aku tidak membenci ibu. Satu-satunya yang paling aku sesali dari kepergiannya adalah ibu mewariskan batu yang merenggut nyawanya itu kepadaku. Sudah sekitar dua tahun aku mengidap penyakit yang sama dengan ibuku. Dan berkat bantuan dari seorang calon legislatif di daerahku, aku bisa berobat ke dokter dengan gratis. Entah memang benar-benar ikhlas atau hanya agar mendapat simpati dari penduduk daerah tempat dia mencalonkan diri, itu bukan menjadi pikiran buatku. Yang penting aku bisa berobat, dan bisa sembuh. Tapi sekali lagi, hasil dari pemeriksaan laboratorium-pun tidak membuat kami bernapas lega. Kami semakin terbebani oleh vonis yang seolah-olah menusukku perlahan-lahan.

“Harus segera dioperasi, kalo tidak kami tidak menjamin anak bapak bisa bertahan hidup sampai enam bulan” kata dokter pemeriksa kepada bapakku.

Mendengar kata OPERASI seperti menerima sebuah paket berisi bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Lalu harus dengan biaya apa, sementara keinginanku untuk makan daging saja dari kecil belum bisa keturutan sampai sekarang. Hanya nasi garam dan kerupuk setiap hari, kalo ada duit lebih biasanya dibelikan kecap oleh bapak. Itu menjadi makanan ter-lezat yang pernah kami makan. Sementara caleg yang memberikan kami biaya berobat gratis pun tak mau tahu. Mungkin sudah terlanjur banyak biaya yang dia keluarkan untuk kampanye-nya, sedangkan jumlah pendukungnya tak juga bertambah signifikan.

Angin bertiup semilir, menggoyangkan daun-daun kedondong. Sinar matahari seolah menusuk dedaunannya dan jatuh ke tanah. Aku duduk sendiri di teras rumah, mungkin ini hanyalah potongan-potongan kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk ruang kubus dengan atap yang sedikit miring. Tapi kami menyebutnya rumah. Rumah yang meneduhkan kami selama puluhan tahun. Di sinilah aku merangkai cerita kehidupanku.

“Masuklah Lastri, banyak angin di luar. Jangan siksa tubuhmu seperti itu” panggil bapakku. Aku tahu, bapak sangat mengkhawatirkan aku. Tapi seperti hilang asa, aku mulai tak memperdulikan kondisi tubuhku yang semakin rapuh.

“Biarlah pak, tubuh ini juga tak akan membaik. Mungkin tak seharusnya aku hidup di dunia ini!”

Aku tahu tak seharusnya aku berkata seperti itu, kasihan bapakku. Setiap hari hidupnya terbebani olehku. Akal sehatku pun seolah mulai mati. Mendahului tubuhku yang tinggal menghitung hari.

*****

Sore tak kunjung tiba
Gemericik air mata menuai iba
Padang savana yang terbentang
Seolah mengucap selamat datang
Aku wanita berbaju putih
Sendiri dan bertelanjang kaki
Menerawang gelap dan sepi
Ditemani ilalang dan bunga matahari
Sejenak terlintas
Bayangan atas cinta pertama
Yang pernah terurai deras
Atas cinta sang Arjuna
Kenangan itulah yang akan abadi
Tersimpan di setiap rongga hati
Di kisi-kisi memori indah
Bersama orang-orang tercinta
Aku terbang
Dengan sayapku yang terbentang
Entah menuju kemana
Karena semua itu tak lagi bermakna.

*****

Sore itu, para warga berbondong-bondong. Mengiringi jenazah Lastri mengantarkan ke pemakaman. Tak ada yang menyangka umur Lastri sependek itu. Padahal dokter memvonis Lastri bisa bertahan hidup sampai enam bulan. Adalah bapak Lastri yang menemukan Lastri terbujur kaku di dalam kamar. Dengan buku harian di dekapannya lengkap dengan foto Tarjo, cinta pertama nya yang akhirnya harus berpisah karena Tarjo mengadu nasib di negara tetangga menjadi seorang TKI. Sedangkan tangan kanan Lastri menggenggam sebilah pisau dan bekas sayatan di nadi kiri.

Adalah merupakan pukulan yang terberat bagi sang bapak. Melihat anaknya yang setiap hari seolah tak ada harapan. Akal sehat yang sudah mati, sampai harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Bukan penyakitnya lah yang membunuhnya, tapi keputus-asaan yang membuat dia harus meninggalkan dunia untuk selamanya.

*Ini adalah cerita fiksi yang pernah saya tulis di blog lama yang sudah dihapus.

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *