Ramah Tamah Bareng Emil Dardak, Bicara Tentang Pandemi Hingga Content Creator

Emil Elestianto Dardak

Mempunyai kesempatan bertemu seorang tokoh yang hebat, menjadi satu kesempatan yang tidak mungkin saya sia-siakan. Salah satunya beberapa waktu lalu, saya mendapat undangan bertemu langsung dengan sosok yang cukup fenomenal. Seorang Emil Elestianto Dardak, atau yang lebih akrab disebut Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih sejak Pebruari 2019. Seorang politikus, penyanyi dan eksekutif muda Indonesia, yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 2016 hingga 2019. Menjadi cukup fenomenal karena di usia yang cukup muda, beliau sudah menorehkan berbagai macam prestasi.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman beliau, tentu berkesempatan bertemu langsung dan bertukar pikiran menjadi satu momen langka yang tidak boleh dilewatkan. Bersama beberapa teman-teman bloger dan influencer dari Jawa Timur, sore itu menjadi pertemuan yang singkat namun penuh makna.

Pembahasan sore itu dimulai dengan berita tentang vaksin Covid-19, bagaimana sih seharusnya kita menerima berita tentang vaksin ini. Karena yang kita tahu, berita tentang vaksin ini cukup heboh, ada yang pro, ada pula yang kontra. Bahkan ada celetukan yang meminta jajaran pemerintahan dulu yang mencoba vaksin ini, baru masyarakat percaya.

Menurut Emil Dardak sendiri, mengenai isu ini beliau tidak boleh salah bicara juga. Karena sampai saat ini, instruksi mengenai vaksin ini sendiri belum resmi turun. Tetapi yang pasti, jangan termakan isu hoax yang kerap beredar. Seperti salah satunya, bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang berani mencoba vaksin ini. Berita ini sepenuhnya hoax, karena faktanya beberapa negara lain seperti Brazil, Turki, Singapura maupun Filipina juga sedang memesan vaksin tersebut.

Beliau menambahkan, yang pasti vaksin ini diteliti oleh tenaga ahli yang berkompeten di bidangnya. Kita tunggu saja instruksi selanjutnya dari Gubernur.

Kita tinggalkan pembahasan tentang Covid-19, selanjutnya giliran emak-emak yang berbicara, hehe.

Salah satu perwakilan emak-emak yang kerepotan mengurusi anak sekolah dari rumah adalah mbak Nurul, kebetulan masih tetanggaan sama saya. Beliau memiliki putra SMP kelas 8, yang mengeluh mumet karena ternyata selain materi pelajaran yang membuat mbak Nurul muter otak buat belajar lagi, juga harus kerepotan menemani putranya mengerjakan tugas yang nggak habis-habis dari gurunya. Selain itu beliau harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai emak-emak di rumah.

Loh, ndak njenengan mawon yang mumet mbak Nurul. Saya sendiri setiap hari harus mumet menemani anak SD dan PAUD yang dua-duanya belajar dari rumah. Stressss rasanya!

Mengenai hal ini, mbak Nurul meminta pendapat pak Emil barangkali ada solusi biar orang tua ndak mumet, guru juga bisa memberikan pelajaran dengan maksimal.

Realistis Tapi Kreatif

Bapak Emil menjawab dengan tenang, bahwa beliau juga mengalami hal yang sama, karena beliau juga mempunyai anak yang duduk di bangku SD.

“Kita sadar betul ini pandemi, tidak ada yang menduga kita amengalami pandemi dalam waktu yang lama,” Ungkap beliau.

Beliau menambahkan, yang harus kita lakukan adalah realistis, tapi harus tetap kreatif. Realistis bahwa keterbatasan tidak bisa kita hindari, namun harus tetap kreatif untuk memaksimalkan yang ada. Seperti misalnya yang pernah beliau lakukan saat berkunjung ke sekolah-sekolah, beliau mengusulkan agar materi disampaikan dalam bentuk recording atau direkam. Hasilnya akan lebih maksimal ketimbang lewat video conference seperti Zoom Atau Meet. Karena koneksi yang kadang kurang bagus, pun juga anak-anak jika harus terlalu lama menghadap layar untuk menerima materi lebih cepat bosan ketimbang jika bertatap muka langsung. Baru fasilitas video conference untuk media diskusi dan sejenisnya.

Ternyata dari teman-teman bloger juga ada yang berprofesi sebagai guru, seperti pak Fajar Oktoberianto guru SMA di Surabaya, Triana Dewi guru SMP di Lamongan, kemudian ada Slamet Hariadi yang merupakan guru STM di Malang. Ternyata guru-guru juga mengalami kesulitan yang sama, metode pembelajaran dari rumah ini membuat guru-guru tidak hanya bekerja ekstra untuk memberikan pengajaran yang maksimal, tapi juga harus menelan beberapa komplainan dari wali murid. Seperti guru dianggap makan gaji buta karena nggak mengajar di sekolah, sampai mendapat komplain masa bayar SPP Cuma dikasih PDF.

Tapi bagaimanapun, Pak Wagub sendiri punya pengalaman saat beliau mendapat beasiswa sekolah di salah satu sekolah unggulan di Siangapura. Bahwa dia dan teman-temannya pernah disuruh untuk tidak masuk sekolah selama seminggu. Tujuannya siswa-siswa diminta untuk menerapkan belajar dari rumah, setiap anak harus memiliki skill independent learning.

Independent learning artinya setiap anak, bertanggung jawab pada dirinya masing-masing. Tidak melulu ketergantungan kepada gurunya, sehingga anak lebih mandiri dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya.

Nah kan terjawab, pengalaman beliau ternyata bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita pejuang pendidikan di masa pandemi. Baik untuk tenaga pendidik, orang tua, maupun siswa-siswa sendiri.

Pembahasan belum selesai sampai di situ, beberapa teman-teman yang lain juga bertanya mengenai EJSC (East Java Super Corridor). Wadah untuk bertemunya ide dan gagasan anak muda di Jawa Timur, dimana dengan adanya EJSC ini diharapkan industri kreatif di Jawa Timur yang digerakkan oleh anak muda bisa semakin berkembang.

Di dalamnya juga ada Millenial Job Center, yang mempertemukan talenta dengan market. Seperti misalnya fotografer produk bisa bertemu dengan pemilik usaha, sehingga bisa saling mensupport untuk kemajuan usahanya. Tentunya sebelum dipertemukan, talenta ini harus memiliki skil yang mumpuni, di sinilah kemudian dilakukan mentoring.

Sampai pada pembahasan tentang Content Creator Academy di Jawa Timur, yang sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Salah satu mentor dari Content Creator Academy kebetulan juga hadir dalam acara ramah tamah kemarin, yakni cak Budiono Sukses. Seorang Youtuber kuliner kondang asal Surabaya, yang kebetulan saya kenal sejak beliau belum terjun ke dunia Youtube.

Harapannya dengan adanya Content Creator Academy ini, muncul kreator-kreator ciamik yang nggak harus mendunia, minimal bisa mendongkrak perekonomian di Jawa Timur baik dari segi usaha mandiri maupun pariwisata.

Terakhir ada fotografer idola saya, Fahmi Adimara yang juga pernah mewakili Indonesia untuk event Google Local Guide Summit 2017 di San Francisco. Fahmi memperkenalkan produk terbarunya, yakni Muvee. Sebuah aplikasi yang sudah bisa diunduh di Playstore, adalah sebuah wadah bagi sineas-sineas untuk mempertontonkan karyanya, maupun bagi penikmat film untuk menonton film-film garapan sineas Indonesia. Wah kerenlah mas yang satu ini.

Pak Wagub menerima kami, mendengarkan curhatan-curhatan kami dengan hangat, hingga acara selesai beliau bahkan rela memenuhi permintaan untuk foto-foto bareng. Terima kasih banyak, semoga Jawa Timur makin maju!

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *