Cinta Dalam Karung

Banyak orang beranggapan bahwa, sebelum kita memutuskan untuk menikah, sebaiknya mengenal atau mendekatkan diri dulu dengan calon pasangan kita dengan tradisi yang bernama ‘pacaran’. Kalaupun mereka beranggapan itu adalah jalan yang terbaik, ya monggo. Toh itu juga hak mereka.

Tapi sebagai seorang muslim, pacaran adalah hal yang sebenarnya dilarang keras untuk dilakukan bagi mereka yang bukan muhrim. Kalau sudah muhrim boleh? Ya boleh saja, banya kok pasangan yang pacarannya setelah menikah, dan mereka bahagia.

Kalau belum kenal sama pasangannya kemudian langsung menikah, sama juga membeli kucing dalam karung dong, Om?

Kalau membeli kucing dalam karung sih saya ogah, lah kalau dalamnya cicak, saya kan geli. Tapi kalau cinta dalam karung, bukan berarti kita buta akan calon pasangan hidup kita kok. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenal calon pasangan hidup kita, tanpa harus melalui proses yang dinamakan ‘pacaran’.

kucing dalam karung, menikah tanpa pacaran, taaruf, syari
Saya sama istri yang menikah tanpa pacaran, sekarang istri lagi mengandung anak yang ke-2

Seperti misalnya si calon itu adalah tetangga atau teman kegiatan di masjid, pastinya kita sudah tahu terlebih dahulu siapa dia, siapa dan bagaimana keluarganya, ataupun bagaimana kesehariannya. Kalau dari kesehariannya sudah tahu dan kemudian timbul benih-benih cinta, kenapa nggak langsung ngomong ke orang tua untuk melamar. Nggak perlu harus mengungkapkan cinta tanpa didampingi pak penghulu, para saksi dan mahar yang cukup. Pacarannya nanti saja kalau sudah menikah, insya Allah selain berkah juga aman kalau mau pacaran sambil guling balik. Kan kalau ada sahwat lewat, tinggal sikat, nggak pake tersendat!

Kemudian ada yang prosesnya dikenalkan oleh saudara atau kerabatnya, seperti misalnya keponakannya tetangga depan rumah. Biasanya kalau si cowok dan si cewek yang mau dikenalkan sudah mencapai usia nisab, artinya mereka sudah UNIK (usia nikah). Hal seperti ini juga banyak sekali terjadi.

“Din, kamu sudah lulus kuliah, kerja juga sudah, apa nggak kepengen berumah tangga? Mau ta’ kenalin tah sama keponakanku, dia anaknya cantik loh. Bla… bla…. bla…..” Ujar pak Sastro, tetangga depan rumah Udin.

Lah kalau si Udin memang sedang kebelet nikah dan menerima tawaran pak Sastro, pasti dia bakal langsung bilang:

“Wah, boleh banget pakde, mbok ya ndang dikenalin. Siapa tahu cocok!”

Tuh kan si Udin malah ngebet duluan. Proses perkenalannya pun bisa dilihatin fotonya dulu, atau si cewek langsung diajak main ke rumah pakdenya untuk kemudian dikenalkan sama si Udin. Kalau kedua kesebelasan sama-sama cocok, langkah selanjutnya adalah dijadwalkan untuk sparing di depan pak penghulu. Baru kemudian diuji kompetisi-kan di kamar pengantin, tinggal nunggu GOL-nya saja.

Ada juga yang menggunakan jasa perjodohan dari pengurus masjid atau pesantren, kemudian melakukan yang namanya taaruf (Baca juga: Tata Cara Taaruf yang Sebaiknya Dilakukan). Bisa dibilang taaruf adalah pacaran yang syari (sesuai dengan syariat Islam). Tanpa harus membeli kucing dalam karung, kita masih bisa kok merasakan cinta dalam karung.

Dan yang lagi rame sekarang adalah perjodohan online, prosesnya hampir sama dengan perjodohan biasa. Hanya bedanya, pertemuan kedua pihak lewat internet. Awalnya melihat daftar calon di list foto, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan. Kalau kedua cocok, bisa jadi mereka akan berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Biasanya di dalam forum perjodohan online tersebut ada moderator yang tugasnya menindak lanjuti apabila ada pasangan yang merasa klop. Kalau sudah menemukan tambatan hati yang pas buat dijadiin pasangan hidup, yang langsung menghubungi KUA terdekat dong. Biar hubungannya lebih berkah dan nggak jadi maksiat. 🙂 Selamat berburu cinta dalam karung!

You may also like...

One comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *