Bisnis Spring Drum Sampai Eksport ke Luar Negeri

Usaha yang dijalankan oleh Bapak Yusak (49) memang merupakan usaha sampingan, namun omzet yang didapatkannya tidak tanggung-tanggung hingga puluhan juta Rupiah setiap bulannya. Selain itu bahan yang digunakannya pun berasal dari bahan limbah yang tidak terpakai. Bagi kebanyakan orang, nama spring drum atau ada yang menyebutnya juga dengan nama tabung halilintar mungkin masih terdengar asing. Namun mainan jenis ini terbilang cukup populer di luar negeri. Disebut tabung halilintar Karena suara yang dihasilkannya hampir mirip dengan suara halilintar, sering kali digunakan juga dalam permainan musik perkusi, maupun terapi untuk menghilangkan stress. “Spring drum ini digunakan juga untuk merangsang saraf pendengaran dan mengurangi stress,” tutur Yusak kepada Elangg.com.

usaha, spring drum
Bapak Yusak, pengusaha spring drum.

Umumnya spring drum terbuat dari bahan bambu maupun pipa PVC, namun di tangan bapak Yusak pemanfaatan bahan-bahan limbah seperti roll karton bekas gulungan kain, benang maupun plastik pembungkus mampu disulapnya menjadi mesin pencetak uang miliknya. Pemasarannya pun meluas hingga ke beberapa Negara seperti Amerika, Perancis, Australia dan Jepang. Sedang untuk pasar dalam negeri, Bali adalah yang paling banyak memesan spring drum buatannya. “Kebanyakan pesanan berasal dari Bali, beberapa art shop maupun distributor mengemas kembali untuk kemudian dipasarkan ke berbagai negara,” terang bapak dengan dua anak tersebut.

Ide awal penggunaan roll karton bekas sebagai bahan dasar pembuatan spring drum miliknya adalah saat dia bekerja di sebuah pabrik sabun dan melihat roll-roll karton bekas plastik pembungkus tidak terpakai. Mencoba untuk bereksperimen dengan mengganti bahan bambu maupun pipa PVC, sehingga menghasilkan suara yang tidak kalah dengan bahan aslinya. Keuntungan lain menggunakan bahan roll karton bekas adalah harganya murah, ringan dan lebih tahan lama dibandingkan dengan bahan bambu. Selain itu, keunikan menggunakan bahan limbah memiliki nilai lebih bagi produk miliknya.

Bapak Yusak mengambil bahan baku roll karton bekas dari beberapa pengepul barang bekas di Surabaya dan sekitarnya dengan harga Rp2 ribu per kilogram, kemudian disortir kembali untuk memilih bahan yang terbaik. Kemungkinan roll yang kurang bagus adalah sekitar 25% dari keseluruhan bahan baku, biasanya Karena sobek maupun penyok. Untuk bahan yang kurang bagus namun masih bisa diperbaiki, dijualnya untuk pasar lokal dengan harga yang lebih murah.

Roll-roll karton yang sudah disortir kemudian dipotong sesuai ukuran dan dipoles untuk menghilangkan serat-serat yang tidak rapi. Untuk mesin potong dan polesnya pun pak Yusak memodifikasi sendiri karena mesin seperti ini tidak dijual di pasaran. Dibantu oleh dua orang karyawannya, bahkan ketika orderan sedang ramai beberapa tenaga tambahan pun ditariknya, tidak terkecuali istri dan pembantunya yang juga kerap kali diminta untuk membantu di proses produksi.

usaha, spring drum
Potongan-potongan karton yang akan digunakan untuk Spring Drum

Untuk pewarnaannya menggunakan cat air yang di teteskan dengan menggunakan jarum suntik atau pipet, yang kemudian setelah kering di tutup dengan lapisan vernish agar lebih awet. Penggunaan jarum suntik atau pipet sebagai media pewarnaan sendiri bertujuan untuk mendapatkan kesan emboss (gambar timbul). Uniknya di tiap-tiap negara, permintaan motif gambarnya pun beda-beda. Untuk Amerika misalnya, mereka cenderung suka dengan motif bergambar binatang seperti tokek, ikan atau kura-kura. Sedangkan untuk konsumen di Perancis cenderung suka dengan motif abstrak seperti gambar bunga, matahari dan sebagainya.

Bahan baku pir dipesannya dari beberapa pengrajin, karena bentuk pir yang tidak biasa dan yang dibutuhkan dalam jumlah banyak. Bahannya terbuat dari kawat stainless agar tidak mudah berkarat. Awal menjalankan usahanya, Yusak harus mensurvey beberapa pengarajin untuk mencari harga yang paling murah. Kini dari pengrajin pir langganannya, dia mendapatkan harga yang cukup murah yakni Rp2.500 per buah.

Harga spring drum jadi miliknya dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu per buah, sedangkan untuk polos tanpa warna dibanderol dengan harga berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp7 ribu. “Untuk beberapa art shop dan distributor di Bali ada yang memesan polos tanpa warna untuk dilukis di sana dan dikemas dengan box branded milik mereka, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” ungkap pak Yusak yang memulai bisnisnya sejak tahun 2000-an.

Untuk memenuhi permintaan pesanan, rata-rata tiap bulan pak Yusak harus membuat hingga dua ribu spring drum. Bahkan dia pernah menerima order hingga lima ribu buah dalam satu bulan. Berkat kerja keras yang dilakoninya itu, sehingga kemudian beliau mampu membeli rumah yang juga digunakan untuk workshop spring drum miliknya.

Bisnis Spring Drum
Nama Pengusaha: Yusak Suyono
Alamat: Perum Alam Gunung Anyar blok A21 no.45-46, Surabaya
No telepon: 0812 1778 7321

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *