BIOACTION: Formula Efektif Produksi Bioetanol Inovasi Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Dewasa ini sumber daya alam semakin berkurang, terutama bahan bakar fosil. Hal ini bisa dilihat dari semakin langkanya cadangan minyak bumi di Indonesia. Seperti diketahui, cadangan bahan bakar fosil seperti minyak bumi untuk cadangan nasional diprediksi hanya tersedia untuk 23 tahun mendatang. Untuk mengatasi masalah ini, perlu adanya sumber energi alternatif yang dapat menggantikan peran bahan bakar fosil di masa depan. Sumber energi alternatif yang baru juga diharapkan dapat mengurangi polusi udara yang sebelumnya ditimbulkan oleh penggunaan bahan bakar fosil (Delima, 2008). Keadaan yang demikian menuntut Indonesia untuk berinovasi dalam mengembangkan sumber daya energi terbarukan. Salah satu sumber energi terbarukan yang dikembangkan oleh Indonesia saat ini adalah bioetanol. Hal tersebut dipengaruhi juga karena produksi bioetanol di Indonesia sendiri diperkirakan akan terus meningkat dengan persentase kenaikan sebesar 5,6% seiring meningkatnya kebutuhan bioetanol untuk industri kimia dan farmasi (Iman et al., 2011). Permintaan bioetanol pada tahun 2005 sebesar Rp 93,79 miliar meningkat menjadi Rp 380,13 miliar pada tahun 2006 (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2006).

Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme (Elfiah, 2010). Beberapa tanaman yang umumnya digunakan sebagai bahan produksi bioetanol adalah singkong dan kelapa. Akan tetapi pertumbuhan tanaman kelapa sangat dipengaruhi oleh cuaca selain itu tanaman kelapa juga rentan terkena hama, seperti ulat pengerat daun (Artona catoxantha). Padahal, pohon kelapa yang terserang ulat itu baru akan bisa kembali berbuah paling cepat dua tahun kemudian (Handoko, 2010). Sedangkan penggunaan tanaman singkong juga terbentur dengan meningkatnya kebutuhan pangan berbasis olahan singkong. Oleh karena itu, diperlukan bahan baku alternatif pengganti kelapa dan singkong. Bahan baku alternatif yang dimaksud adalah Cerbera manghas.

Cerbera manghas atau yang umum dikenal dengan nama Buah Bintaro merupakan tumbuhan mangrove yang tumbuh melimpah di daerah tropis Indonesia dan merupakan buah yang belum termanfaatkan secara penuh (Gaillard, 2004). Buah ini memiliki kandungan selulosa sebesar 36,945 % dan lignin sebesar 38 % yang berpotensi sebagai sumber bahan baku pembuatan bioetanol (Chang et al., 2000). Adanya kandungan selulosa menjadikan buah bintaro berpotensi dalam pembuatan bioetanol melalui proses hidrolisis yang memecah selulosa menjadi glukosa yang merupakan bahan baku fermentasi bioetanol (Iman et al., 2011).

Berdasarkan hal itulah, tim BIOACTION mahasiswa Universitas Negeri Malang yang terdiri dari Rangga Ega Santoso, Nur Fitriana, Maria Carolina Yuaniar dan Firda Chynthia Dewi yang mendapat hibah dana Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2017 berinovasi untuk mencari formula guna mendapat efektifitas tertinggi dalam menghasilkan bioetanol dari buah bintaro. Namun, proses pengolahan buah bintaro yang diperlakukan berbeda dengan yang dilakukan oleh Iman pada tahun 2011. Proses pengolahannya dimulai dari pretreatment, delignifikasi, hidrolisis asam sulfat, fermentasi, dan diakhiri dengan distilasi.

Dan benar saja, serangkaian proses pengolahan di atas berhasil mendapatkan % etanol yang lebih banyak. Hasil uji gas kromatografi menunjukkan bahwa kadar etanol mencapai 0,719%, nilai ini jauh berada di atas nilai yang dihasilkan oleh Iman pada tahun 2011 yang hanya mencapai 0,53%. Dalam penelitiannya, Rangga dan tim juga menggunakan pengujian kuantitatif dengan metode Nelson-somogyi untuk mengetahui gula pereduksi. Hasilnya juga berbanding lurus dengan uji gas kromatografi, di mana didapatkan nilai gula pereduksi yang tinggi hingga mencapai 10.190 ppm melebihi hasil yang diperoleh Iman yang hanya mencapai 8605 ppm. Menurut Rangga, hingga detik ini, penelitiannya dan tim menjadi penelitian yang paling efektif dalam mengolah buah bintaro menjadi bioetanol.

Keunggulan-keunggulan lain dari penelitian Rangga dan tim terletak pada nilai efisiensinya pula. Tahun 2011 Iman membutuhkan waktu 9 hari untuk mengolah bintaro menjadi bioetanol, sedangkan Rangga dan tim hanya membutuhkan waktu 4 hari 3,5 jam untuk melakukannya. Hal lain yang juga menjadi keunggulan penelitian ini adalah harga implementasinya yang ekonomis karena bahan-bahan penelitian yang digunakan tergolong murah dan mudah didapat di pasaran.

Di akhir wawancara, Rangga mengungkapkan bahwa penggunaan buah bintaro dalam pembuatan bioetanol skala besar tidak akan menimbulkan persaingan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, karena tanaman bintaro dapat digolongkan sebagai tanaman nonpangan akibat kandungan racun pada biji bintaro yang menyebabkan buah bintaro tidak dapat dikonsumsi. Rangga juga mengungkapkan bahwa formula BIOACTION dapat dicoba pada sumber selulosa yang lain, jika etanol yang dihasilkan juga melebihi roadmap penelitian sebelumnya, maka formula ini layak dikomersialkan untuk produksi etanol secara menyeluruh. Sehingga operasional massal formula ini pada seluruh sumber selulosa akan meningkatkan produksi energi biomassa negeri yang berefek domino pada ketercapaiannya cita-cita Pemerintah pada Kebijakan Energi Nasional (KEN) tahun 2025 khususnya pada sektor energi biomassa.

Rangga dan tim dari Universitas Negeri Malang

DAFTAR PUSTAKA

  • Badan Pusat Statistik Indonesia. 2006. Statistik Industri Besar dan sedang. Jakarta: Katalog BPS.
  • Chang L. C Gills JJ, Bhat KP, Luyengi L, Farnsworth NR, Pezzuto JM, and Kinghorn AD. 2000. Activity Guided Isolation of Constituents of Cerbera manghas with Antiproliferative and Antiestrogenic Activities. Bioorganic and Medical Chemistry Letters 10(21): 2431–2434.
  • Delima, asri. 2008. Makalah Seminar Pengembangan Industri Biofuel. Bogor
  • Elfiah, Wulandari. (2010). Pengaruh Konsentrasi Ragi Dan Lama Fermentasi Terhadap Kadar Etanol Dan Kadar Glukosa Hasil Fermentasi Kulit Buah Nanas (Ananas Comosus). Skripsi Fakultas Ilmu Kegurugan Dan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • Gaillard Y. Krisnamoorthy A. and Bevalot F. 2004. Cebera manghas. http://www.fmipa.unsyiah.ac.id/jurnalnatural/images/pdf/hal_18_21_2_2010.pdf.[12 Mei 2017]
  • Handoko, A., Artikel: Ketika Ulat Memutus Pendapatan Merek, Surat kabar Harian KOMPAS, hal 3, Minggu, 11 April 2010.
  • Iman, Greg. Handoko, Toni. 2011. Pengolahan Buah Bintaro sebagai Sumber Bioetanol dan Karbon Aktif. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” ISSN 1693 – 4393 Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia Yogyakarta, 22 Februari 2011.

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *