Bicara Soal Nasionalisme di Era Milenial, Perlukah?

Bicara soal generasi milenial, dimana saat ini siapa saja bebas-sebebas-bebasnya mengemukakan pendapat tentang pandangan mereka dari sudut manapun. Entah itu benar atau salah, atau bahkan justru memojokkan pihak atau golongan tertentu.

Sebut saja seseorang yang mengemukakan pendapat di ruang publik dunia maya, atau yang saat ini sedang populer sosial media. Ketika pendapat tersebut sedikit saja berbeda dengan pandapat orang lain, maka kritikan, hujatan atau bahkan caci maki dan kata-kata kotor bisa dihujani kepadanya. Atau kalau istilah zaman now itu ‘bullying’.

Atau yang lebih gawat lagi, saat ini setiap orang bebas menyebarkan berita apa saja. Ada pihak yang dengan sengaja membuat berita palsu, dengan dibumbui berbagai ramuan bukti atau teori abal-abal. Sebut saja itu ‘hoax’, yang menurut Wikipedia berarti “pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal si pencipta berita tersebut tahu kalau berita itu palsu”.

Di era milenial saat ini, kemudahan menerima berita, meng-share, atau bahkan copy-paste sebuah berita menjadi krisis moral yang cukup darurat. Hanya karena ingin disebut sebagai ‘pahlawan’, seolah dialah yang berjasa menyebar suatu berita penting. Seringkali menjadi suatu alasan mereka ingin segera klik share, copy-paste dan lain sebagainya, namun tanpa mencari tahu terlebih dahulu apakah berita tersebut sudah A1 atau belum.

“Kalau ndak segera di-share, jempolnya gatel.”

Inilah yang menjadikan suatu negara berada di keadaan yang gawat-darurat. Seperti yang dicontohkan oleh Bapak Andrianto, kepala bagian Pusat Data dan Sistem Informasi Setjen MPR RI pada acara #NgobrolBarengMPR Sosialisasi Empat Pilar MPR di Fairfield Surabaya, 04 Nopember 2017 kemarin.

Sebuah negara super power bisa terpecah belah karena diserang isu SARA, mereka mencelakai saudara sebangsanya hanya karena beda warna kulit atau cara berpakaian. Hal ini cukuplah jadi pelajaran bagi negara kita, jangan sampai keragaman suku, adat, bahasa atau sekadar pemahaman dalam keyakinan bisa memecah belah NKRI.

Nah, di sini semakin terlihat, bahwa moral sebuah bangsa adalah tidak lepas dari rasa nasionalisme terhadap negaranya. Nasionalisme berarti banyak hal, nasionalisme bisa berbentuk dalam berbagai hal.

Seberapa Pentingkah Rasa Nasionalisme Dalam Kehidupan Kita?

sosialisasi empat pilar mpr, nasionalisme

1. Nasionalisme Adalah Tolak Ukur

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu (john F Kennedy).”

Jika kita mau sebentar saja berkaca, bahwa sebuah negara tidak dijalankan oleh satu orang saja. Melainkan seluruh bangsa berperan sangat penting dalam kemajuan sebuah negara. Artinya jika setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tidak akan ada habisnya. Demonstrasi dimana-mana, menuntut agar hak mereka dipenuhi.

Sah-sah saja, mengingat negara kita adalah negara demokrasi. Dimana suara rakyat adalah yang paling utama. Namun apakah suara yang kita teriakkan sudah sejalan dengan prinsip berbangsa dan bernegara? Rasa nasionalisme adalah tolak ukurnya.

2. Nasionalisme Adalah Berkarya Positif

Saat ini, banyak sekali karya-karya positif yang bisa dibuat oleh generasi milenial, yang bahkan tidak terpikir sebelumnya bisa membawa dampak positif bagi negara.

Sebut saja beberapa waktu belakangan banyak bermunculan startup-startup baru, yang sebelumnya adalah hal sepele, di tangan kreatif generasi milenial bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Ojek online salah satunya. Pemanfaatan kendaraan pribadi, kemudahan akses, biaya yang murah, meskipun sampai saat ini masih menuai banyak pro-kontra harus diakui sangat berhasil membawa manfaat bagi banyak orang. Mulai dari terbukanya lapangan pekerjaan baru, hingga kemudahan bagi yang membutuhkan layanan transportasi.

Kemudian di acara #NgobrolBarengMPR Sabtu kemarin, moderator memperkenalkan tiga orang yang membawa nama harum negara Indonesia, mendapat undangan kehormatan berkunjung ke kantor Google di San Francisco GRATIS dalam acara Google Local Guides Summit 2017. Betapa membanggakannya mereka kala itu. Bertemu dengan 150 Google local guides dari 62 negara, seolah kecintaan mereka terhadap tanah air meningkat hingga 1000%. Inilah nasionalisme.

Tidak hanya itu, banyak karya positif yang bisa dituangkan untuk mengekspresikan rasa nasionalisme. Gaming, blogging, vlogging, stand up comedy, membuat komik dan lain sebagainya. Inilah jaman milenial, dimana kretifitas bisa terkupas tanpa batas, setiap karya bisa berjaya untuk Indonesia tercinta.

3. Nasionalisme Adalah Menerima Keragaman, Bukan Untuk Dibeda-bedakan

Sejak pertama berdiri, Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali keragaman. Mulai dari suku, adat/budaya, warna kulit, bahasa dan banyak lagi.Keragaman tersebut terangkum menjadi semboyan “Bihineka Tunggal Ika”. Dimana meskipun berbeda-beda, tetapi tetap menjadi satu jua.

Hal inilah yang kerap menjadi krisis nasionalisme suatu bangsa. Bahwa dengan kemudahan teknologi saat ini, menyebar isu kebencian, atau bahkan bullying yang dilakukan rame-rame di sosial media. Membuat kita sadar, bahwa kita sering lupa dengan rasa nasionalisme.

4. Nasionalisme Itu Bersama, Bukan dari Sepihak Saja

Bapak Maruf Cahyono pada acara #NgobrolBarengMPR di Fairfield Surabaya kemarin mengatakan, dari banyak sekali ideologi bangsa yang ada. Indonesia memilih demokrasi, karena hal itu adalah yang paling pas untuk negara kita ini. Demokrasi berarti bermusyawarah untuk mufakat, dimana melibatkan semua pihak, dan menjunjung tinggi suara rakyat sebagai suara tertinggi.

Jangan bicara soal satu negara, dari lingkup terkecil pun kita selalu menomor satukan musyawarah sebagai sarana untuk mencari solusi dari suatu permasalahan. Setiap orang memiliki hak untuk bersuara, setiap suara sangat berperan untuk menentukan suatu kemufakatan.

Jadi, jika kita bicara soal nasionalisme, maka kita berbicara tentang kepentingan bersama, bukan hanya dari sepihak saja.

Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

sosialisasi empat pilar mpr

Jadi, Sabtu (04/11) kemarin saya mendapat undangan bertemu langsung dengan bapak-bapak dari MPR RI dalam acara Ngobrol Bareng MPR. Awalnya yang mau datang adalah ketua MPR bapak Zulkifli Hasan, namun karena beliau ada tugas akhirnya digantikan oleh sekretaris jenderal MPR, bapak Maruf Cahyono bersama kepala bagian pusat data dan sistem informasi Setjen MPR, bapak Andrianto.

Acara yang diadakan pagi hingga siang hari tersebut, berlangsug cukup santai dengan pembahasan yang meskipun judulnya agak berat, namun disampaikan dengan sangat ringan. Harus saya akui, bapak Maruf Cahyono adalah orang yang sangat fleksibel. Beliau mampu berkomunikasi dengan puluhan netizen yang kebanyakan adalah anak muda dengan tidak bersifat menggurui dan sebagainya. Mampu berbaur dan sesekali bercanda, serta tidak lupa menyampaikan pesan bagaimana kita bisa mengekspresikan diri sebagai pemuda, namun tetap dengan menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme.

Alhasil, puluhan netizen dari berbagai daerah yang hadir pun mengikuti serangkaian acara dengan antusias.

Pesan dari bapak Andrianto, agar netizen tidak mudah terpengaruh dengan berita-berita hoax, maupun isu-isu pemecah belah bangsa yang belakangan marak beredar di dunia maya, khususnya sosial media.

Kemudian bapak Maruf Cahyono berpesan agar netizen berperan penting menyebarkan virus nasionalisme melalui internet, dengan cara dan gayanya masing-masing. Mari jadi agen perubahan.

Salah satu netizen lewat cuitannya di akun Twitter @sayadito mengatakan “Anak muda saat ini tidak hanya agen LPG dan air mineral tapi juga merupakan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik #NgobrolBarengMPR“.

Sontak cuitan tersebut membuat para netizen tertawa, bahkan bapak Maruf juga ikut mengutip dalam penyampaiannya.

Memang benar adanya, bahwa pemuda, khususnya kids zaman now di era milenial ini bisa menjadi agen perubahan untuk Indonesia lebih baik melalui media sosial. Seperti yang pernah dikatakan oleh Bung Karno.

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Adapun untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, MPR pun mensosialisasikan empat pilar yakni:

  1. Pancasila Sebagai Dasar dan Ideologi Negara
  2. UUD NRI Tahun 1945 Sebagai Konstitusi Negara
  3. NKRI Sebagai Bentuk Negara
  4. Bhineka Tunggal Ika Sebagai Semboyan Negara

sosialisasi empat pilar mpr

Bukan hal yang baru sebenarnya, karena toh kita yang pernah ‘makan bangku sekolah’ pasti sudah pernah mendapat pelajaran dari empat pilar tersebut. Hanya saja, kita sering lupa untuk menjadikan empat pilar tersebut pedoman untuk hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kelima sila dalam Pancasila saja ada kok yang nggak hapal, hehe.

Sosialisasi empat pilar MPR ini membuat saya pribadi jadi bertanya dalam hati, kayaknya saya sudah lama tidak belajar kembali tentang Pancasila, UUD 1945, atau yang dulu sekolah disebut pelajaran PMP, PPKN atau apapun namanya. Masih Indonesiakah saya?

Mari yuk kita sama-sama berkaca dan bertanya pada diri sendiri, kemudian sebarkan virus nasionalisme ke orang-orang di sekitarmu. Niscaya Indonesia akan bisa jadi lebih baik lagi.

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *