BAPER’s TALK: Bagaimana Bapak-Bapak Blogger Membagi Waktunya

Hai, selamat datang di BAPER’s TALK.

baper's talk

Baca BAPER’s TALK versi Ihwan Hariyanto: Manajemen Waktu Keluarga dan Pekerjaan

Baca BAPER’s TALK versi Priyo Harjiyono: Bapers Talk Manajemen Waktu Kerja dan Keluarga

Menjadi seorang bapak, suami, sekaligus blogger tentu sehari-harinya dipenuhi oleh banyak kegiatan. Satu lelaki dengan banyak peran, meskipun terkesan riweh tapi ya beginilah. Ada saja cara untuk tetap berusaha mengerjakan segala tuntutan dengan sebaik mungkin.

Jujur, sebenarnya saya bukan orang yang terbisa mengatur jadwal dengan teratur. Seperti misalnya membuat list jadwal harian, jam sekian mengerjakan ini, jam sekian mengerjakan itu dan seterusnya. Paling yang biasa saya lakukan itu, mencatat list apa saja yang harus dikerjakan di satu buku jurnal, kemudian mencentangnya kalau sudah kelar dikerjakan. Jadi, sebaiknya jangan tanya soal majanemen waktu kepada saya, hahaha.. 😀

Tapi, bagaimanapun juga saya nggak se-frontal itu kok. Di dalam buku jurnal tempat saya mencatat daftar yang harus dikerjakan, ada skala prioritasnya. Mana pekerjaan yang terbilang urgent, mana yang sedang, sampai yang paling belakangan bisa dikerjakan. Biasanya yang paling belakangan itu yang deadline-nya paling lama.

Mungkin sebelumnya saya mau ngasih tahu dulu, sebenarnya apa saja sih kesibukan saya sehari-hari. Kemudian baru kita bicara soal manajemen waktu.

Saya adalah suami dengan satu istri, bapak dengan dua anak (yang sekarang istri sedang hamil lagi, dan menunggu kelahiran anak ke-3), pedagang alat-alat listrik, serta blogger yang mempunyai cita-cita sukses di bidang internet marketing.

Istri saya setiap hari ngantor dari pagi sampai sore, kecuali hari Minggu libur. Anak saya dua, yang pertama Abel saat ini masih sekolah TK-A, dan yang ke-2 masih berusia 7 bulan. Kalau istri lagi ngantor, dua biji anak-anak ikut saya, karena kebetulan saya membuka toko di rumah orangtua. Jadi anak-anak setiap pagi menjadi tanggung jawab saya, dibantu oleh ibu.

Tidak bisa dipungkiri, ibu masih banyak berperan dalam meramut anak-anak. Tapi, selama mereka tidak keberatan, saya juga bukan orang yang semena-mena menyuruh ibu buat meramut anak tanpa memperhatikan kondisi dan perasaan beliau. Saya selalu mengkomunikasikan dengan ibu tentang anak-anak, begitu juga bapak yang terkadang mengajak main anak-anak. Seperti misalnya beberapa waktu lalu, saya harus ke luar kota selama tiga hari, saya minta ijin sekaligus ngomongin masalah anak-anak ke orangtua. Alhamdulillah ortu mengijinkan dan anak-anak selama saya pergi bisa di-handle dengan baik. Toh saat itu ada istri saya yang sepulang kerja menjemput anak-anak pulang.

Dulu waktu saya masih bekerja sebagai karyawan di perusahaan, saya pernah membayar orang untuk meramut anak saya, namun karena suatu hal kami tidak meneruskan menggunakan jasa si orang tadi. Di lain itu, orangtua saya juga bilang sebaiknya anak-anak diramut sendiri saja, ortu merasa masih sanggup.

Tapi, sejak saya resign Januari 2016 lalu, saya jadi lebih punya banyak waktu di rumah. Sehingga bisa lebih meringankan ortu dalam meramut anak-anak.

How I Managing My Time?

Saat ini setiap pagi setelah kelar beberes rumah bareng istri, saya nganter Abel sekolah kemudian baru buka toko. Setelah istri berangkat ngantor, baby Benz saya bawa. Sambil jaga toko, saya dan ibu bergantian jagain Benz. Kebetulan Benz lebih banyak tidur saat pagi atau siang hari, di saat itulah saya bisa lebih intens mengusrusi toko atau blog, mana yang lebih urgent, itu yang akan saya kerjakan terlebih dahulu. Tapi kalau pagi biasanya toko lebih saya prioritaskan ketimbang blog, kecuali ada beberapa kasus, klien minta tulisan dipublish sesegera mungkin. Saat itu baru saya menyempatkan untuk segera menulis.

Toko saya buka dari pagi sampai menjelang Magrib, karena bagi saya Magrib sampai malam hari adalah waktu wajib untuk keluarga dan beribadah. Banyak yang menanyakan, kenapa nggak buka toko sampai malam saja?

Saya yakin saja sih, waktu untuk keluarga dan ibadah itu lebih penting, insa Allah soal rejeki diserahkan sama yang di atas saja. 🙂

Jadi setelah tutup toko, biasanya Magrib sampai malam kalau nggak ada kegiatan pengajian dan lain-lain di masjid, ya saya sempatkan untuk jalan-jalan atau makan bareng istri dan anak-anak. Paling kalau nggak keluar rumah ya nonton tivi sambil ngemil bareng, seringnya sih Abel mainan sama adiknya, saya dan istri nonton sitkom favorit kami, OK-Jek. 😀

Nah, hari semakin malam, anak-anak dan istri sudah terlelap duluan, saya seringnya masih melek, terus buka laptop. Kalau nggak ngerjain job blog, nulis, browsing, atau apapun yang berhubungan dengan aktivitas blogging sampai jam 2-3 pagi. Hal ini saya kerjakan hampir tiap hari, kecuali kalau lagi capek banget, paling mentok jam 1 pagi sudah tutup laptop.

Pas adzan Shubuh biasanya saya terbangun, meskipun belum bisa teratur, diusahakan untuk solat Shubuh berjamaah di masjid. Sepulang dari masjid, kembali ke aktifitas rutin harian. 😀

You may also like...

7 comments

  1. Iya tuh mas, klo ak kerja buat keluarga bukan sebaliknya berkeluarga buat kerja. Jd klo ada urusan bentrok kerja n kluarga ak lbh mengutamakan keluarga. Kecuali hal2 yg emg g bisa diwakilin rekan lain

  2. Wah aku salut sampeyan ternyata ngemong dua bocil dari pagi mpe sore sambil bekerja, sangat jarang ada suami kayak gitu.
    Itu Abel pinter ya bisa main sama Benz, kalo Aim itu masih ga suka jika Aira nimbrung trus maunya aku merhatiin dia mulu 😀

  3. Suka, Mas sama poin rezeki diserahkan pada Gusti. Keluarga comes first, rezeki biar Gusti yang atur dan rezeki bisa macem-macem bisa kesehatan, materi, kebahagiaan, dll. Semoga kehamilan ketiga ini sehat selalu ya, Mas (nitip ucapan ini untuk istrinya) hehehe..

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *