Bapak Masuk Rumah Sakit

Selasa malam saya sekeluarga (bersama bapak juga) masih bareng-bareng menghadiri sebuah hajatan pernikahan salah satu kerabat dekat rumah, bapak masih sehat saja, makannya juga masih doyan dan nggak ngeluh sakit apapun. Pulang hajatan, balik ke rumah masing-masing. Pas waktu istirahat, saya dan istri sudah terlelap, jam 1 pagi ada telepon dari ibu.

“Lang, anterin bapak ke dokter!”

Wah, bapak kenapa? Dengan perasaan sedikit panik, saya ganti baju seadanya. Saat itu jam 1 pagi, udara masih sangat dingin.

Sesampainya di rumah orangtua, bapak kelihatan menahan sakit di perut. Sakitnya nggak biasa, padahal sudah minum obat pereda nyeri tapi masih kerasa sakit. Ya sudah, saat itu juga saya anterin ke dokter bareng ibu juga. Ternyata klinik dekat rumah tutup!

Ibu bilang langsung dibawa ke rumah sakit saja, siapa tahu kenapa-kenapa biar penanganannya pun cepet. Saat itu juga kami bertiga berangkat ke rumah sakit Haji Surabaya, Sukolilo.

Penanganan Cepat di Rumah Sakit Haji Surabaya

Sesampai di RS Haji, kami langsung menuju Unit Gawat Darurat (UGD). Petugas pendaftaran siap 24 jam. pas kami datang mas penjaga loket pendaftaran langsung menerima kami, bahkan beliau menyuruh saya untuk membawa masuk bapak terlebih dahulu, baru setelah bapak diperiksa saya baru mengurus pendaftaran dan sebagainya. Keren, lebih mengutamakan kepentingan pasien dan bukan ribet dengan urusan administrasi dan sebagainya.

Di dalam bapak sudah diperiksa oleh tiga orang. Satu orang cewek, sepertinya perawat, satu orang cowok muda, sepertinya dokter muda, dan satu orang bapak-bapak, sepertinya doker senior. Oiya, ini tebakan saya saja sih, hehehe, lah wong nggak ada tanda pengenal mereka itu siapa.

elektrokardiogram jantungSetelah beberapa saat diperiksa, bapak pun kemudian di cek dengan menggunakan alat yang namanya EKG (Elektrokardiogram), adalah alat untuk memeriksa kondisi jantung seseorang pada kondisi istirahat. Alat ini mempunyai 4 jepitan yang akan dijepitkan pada tangan kanan dan kiri, kaki kanan dan kiri. Kemudian ada sekitar 6 bulat-bulat kecil yang di tempelkan di bagian dada. Ada sebuah display yang juga berfunsi sebagai printer untuk mencetak hasil rekam jantung.

Dari mesin inilah kemudian diketahui kondisi jantung seseorang. Bapak yang kemarin dicek dengan menggunakan EKG akhirnya diketahui ada yang nggak normal dari jantung bapak. Dokter kemudian menyarankan untuk opname, dan bapak kemudian masuk ke ruang perawatan jantung RS Haji, Surabaya.

Namun dari salah satu perawat yang saya temui mengatakan kalau kondisi bapak tergolong ringan, bahkan kemungkinan bisa jadi jantung bapak sehat. Karena keluhan bapak di dada sebelah kanan, sementara khas-nya penyakit jantung itu sakitnya di dada sebelah kiri, namun hal itu juga nggak bisa dijadikan acuan, karena indikasi sakit dari setiap orang berbeda-beda.

Kalau ditanya soal makan, bapak jangan ditanya. Dalam kondisi sakit seperti ini pun bapak bisa langsung menghabiskan makanannya sekaligus tak bersisa. 😀 Terbukti waktu pagi sarapan, bapak langsung menghabiskan jatah sarapannya dengan lahap, spontan hal itu membuat salah seorang perawat nyeletuk, “Wah. makannya langsung habis, sebentar lagi juga pulang pak, bapak sakitnya karena lapar mungkin ya..” Saya dan bapak pun tertawa.

Jejak Kaki Menuju Laboratorium

Saat pertama kali bapak diperiksa dan dinyatakan jantung, dokter mengambil sample darah dan urin untuk diperiksa di laboratorium. Saya selaku pengantar pasien pun diminta untuk mengantarkan sample tersebut ke lab. Dokter cuma bilang, “Tolong antarkan sample ini ke lab di lantai 3, ikuti saja jejak kaki di luar!” Waktu saya keluar, di lantai ada jejak kaki besar yang memang dibuat dari cat atau stiker. Atas petunjuk dari dokter, saya pun mengikuti jejak kaki tersebut, jejak kaki tersebut berhenti di sebuah lift. Dokter bilang lantai 3, saya kemudian masuk lift dan memencet angka 3. Tiing.. Pintu lift terbuka, dan saya menemukan jejak kaki lagi. Lantai 3 sepiiii banget, nggak ada orang sama sekali. Jam 2 malam di rumah sakit, lantai 3, sendirian, hiiih. Untunglah ada  jejak kaki, padahal saya sempat bingung lab ada di mana. Dengan mengikuti jejak kaki tersebut saya pun berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup bertuliskan “Lab Cito”. Petugas ada di dalam, silakan tekan bel untuk memanggil. Begitu tulisan yang ada di pintu. Ting tong..

Ternyata pihak rumah sakit sudah memperhitungkan tentang hal ini, untuk memudahkan keluarga pasien mengantarkan sample ke lab dibuatkanlah semacam jejak kaki tersebut. Beda dengan rumah sakit tempat nenek saya waktu itu dirawat, saya jam 3 pagi sampe harus kebingungan mencari lokasi lab karena minimnya petunjuk, hanya papan petunjuk yang ada.

Apotek 24 Jam

Di RS Haji tempat penebusan resep obat pun gampang banget, lokasinya ada di sebelah loket pendaftaran UGD dan petugasnya stand by 24 jam. Mbak yang jaga pun cakep, masih muda banget, paling sekitar umur 23-25 an. Jadi betah kalau disuruh ambil obat. *eh

Setelah semua penanganan beres, bapak pun siap-siap untuk dipindahkan dari ruang UGD ke ruang perawatan jantung. Sebelumnya bapak masuk ke ruangan foto sinar-X dulu, entahlah di rontgen atau apa. baru kemudian diantarkan masuk ke ruang perawatan Jantung.

Aturan di Ruang Perawatan Jantung

Karena ini ruang perawatan jantung, yang seluruh pasien di sini adalah di diagnosa terkena penyakit jantung, maka perlu ada beberapa peraturan yang diberlakukan.

  1. Anak-anak tidak boleh masuk
  2. Pengantar atau penjenguk dilarang gerudukan, maksimal 2-3 orang saja untuk menghindari keributan. Karena pasien jantung sangat membutuhkan ketenangan. Jadi kalau tamunya banyak, dianjurkan untuk gantian masuknya. Untuk penunggu pun hanya boleh 1-2 orang saja, sisanya bisa menunggu di ruang tunggu yang disediakan di luar.
  3. Disediakan cairan antiseptik di setiap pintu masuk dan pintu keluar ruang perawatan jantung. Untuk pengunjung atau penunggu diwajibkan untuk membasahi tangannya dengan cairan tersebut untuk menghindari kuman. Jangan sampai seseorang itu membawa kuman dari luar ke dalam ruang perawatan jantung atau membawa kuman berbahaya dari ruang perawatan jantung ke rumah. Hal itu disebut juga “penularan silang”.

Hari Kedua

Hari ini (Kamis), hari kedua bapak dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah perkembangannya sudah cukup bagus. Infus obat sudah dilepas, hanya infus biasa yang masih terpasang. Bapak juga sudah nggak kerasa sakit seperti saat hari pertama masuk rumah sakit, meskipun beliau masih merasa sangat lemah. Maklumlah, dua hari cuman tiduran di kasur, padahal bapak adalah orang yang sangat aktif dan doyan banget olahraga. Insya Allah dalam waktu dekat bapak sudah boleh pulang.

Semoga bapak kembali sehat dan berkumpul lagi bareng-bareng di rumah. Amin!

You may also like...

2 comments

  1. semoga bapak segera sehat dan ceria kembali sehingga makannya bisa habis sebakul, dan semoga keluarga semakin mendekat kepada-Nya…aaaamiiiiin

    Amiiin… terima kasih kang 🙂

  2. Bagus ya rumah sakitnya. Dalam keadaan darurat seperti itu memperbolehkan daftar belakangan. Memang harusnya seperti itu, sih.
    Semoga bapaknya cepet sembuh, mas.

    Amin! Iya memang rumah sakit harusnya lebih mementingkan pasien ketimbang administrasi dan birokrasi yang menyusahkan 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *